SZA Murka: 238 Lagunya Dipakai Melatih AI Tanpa Izin, Termasuk Materi Belum Rilis
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi SZA menemukan 238 lagunya, termasuk yang belum dirilis, telah digunakan untuk melatih model AI tanpa persetujuan.
- Ia mengecam keras praktik ini dan menyebut pendukung AI di industri musik sebagai 'menjijikkan'.
- SZA khawatir AI memperparah ketimpangan bagi musisi kulit hitam dan merusak keaslian bermusik.

Penyanyi-penulis lagu SZA melontarkan kecaman keras setelah mengetahui bahwa 238 lagunya—termasuk materi yang belum pernah dirilis secara resmi—telah digunakan untuk melatih sistem kecerdasan buatan (AI) pembuat musik tanpa izin darinya. Temuan ini memicu kemarahan sang musisi yang selama ini vokal menentang penggunaan AI di industri kreatif.
Melalui unggahan di Instagram Stories, SZA mengungkapkan kekecewaannya. “Baru saja mengecek dan AI musik telah dilatih dengan 238 laguku. Aku yakin beberapa di antaranya belum dirilis. Jika kamu seorang musisi dan mendukung sampah yang merusak ini? Kamu menjijikkan dan TIDAK ADA YANG BISA KAMU KATAKAN UNTUK MEMBUAT INI BAIK-BAIK SAJA. Aku harap kamu mendapatkan kehidupan yang pantas kamu dapatkan,” tulisnya dengan nada marah.
Kekhawatiran SZA tidak berhenti pada pelanggaran hak cipta. Dalam wawancara dengan majalah i-D, ia menyatakan merasa “sedang berperang” karena maraknya AI di industri musik. Ia menilai teknologi ini secara tidak proporsional merugikan musisi kulit hitam. “Mengapa saya mendengar sampul AI dari lagu Olivia Dean, padahal Olivia Dean baru saja muncul? Dia bahkan tidak bisa mengumpulkan streaming-nya,” ujarnya. SZA juga menyebut jenis musik kulit hitam yang dihasilkan AI sebagai “aneh, musik perjuangan stereotip.”
Bagi industri musik Indonesia, kasus SZA menjadi alarm keras. Di tengah maraknya platform AI generatif yang mudah diakses, perlindungan hak cipta dan izin penggunaan karya menjadi isu krusial. Musisi lokal seperti penyanyi dan produser tanah air perlu mewaspadai potensi eksploitasi serupa. Regulasi hak cipta di Indonesia, meski sudah ada, masih perlu diperkuat untuk mengakomodasi tantangan era AI. Tanpa perlindungan yang jelas, karya musisi Indonesia bisa saja digunakan tanpa izin untuk melatih model AI, menghilangkan potensi royalti dan kendali kreatif.
SZA sebelumnya juga mengkritik dampak lingkungan dari AI. Dalam unggahan tahun lalu, ia mendorong penggemar untuk mencari tahu berapa banyak energi dan polusi yang dihasilkan oleh sistem AI. Ia menyoroti kota-kota kulit hitam seperti Memphis yang menderita akibat pusat data AI. “AI tidak peduli apakah kamu hidup atau mati. ADA HARGA UNTUK KEMUDAHAN, DAN KOMUNITAS KULIT HITAM DAN COKLAT AKAN MEMBAYARNYA SETIAP KALI,” tulisnya.
Kritik SZA terhadap AI bahkan telah tertuang dalam lagunya “Ghost in the Machine” dari album SOS (2022). Ia bernyanyi, “Mari bicara tentang AI, robot punya lebih banyak hati daripada aku / Robot punya masa depan, aku tidak / Robot punya tidur tapi aku tidak bisa mati.” Lirik ini mencerminkan kegelisahannya terhadap dehumanisasi yang dibawa oleh teknologi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah kasus SZA mendorong perubahan kebijakan di industri musik global, termasuk Indonesia? Ataukah para musisi harus terus berjuang sendiri melawan gelombang AI yang kian tak terbendung?



