PM Inggris Keir Starmer Mundur, Labu Politik Terbaru di Downing Street
Baca dalam 60 detik
- Keir Starmer mengundurkan diri sebagai perdana menteri setelah dua tahun menjabat, menyusul tekanan dari partainya sendiri dan kekalahan dalam pemilu sela.
- Andy Burnham, mantan Wali Kota Manchester Raya yang baru terpilih sebagai anggota parlemen, menjadi kandidat terkuat untuk memimpin Partai Buruh dan negara.
- Pergantian ini menandai perdana menteri ketujuh Inggris dalam satu dekade, mencerminkan ketidakstabilan politik yang terus berlanjut.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh pada Senin (22/6), membuka babak baru ketidakpastian politik di negara tersebut. Dalam pidato singkat di depan kediaman resmi 10 Downing Street, Starmer mengakui bahwa partainya telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinannya dan ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Starmer, yang memimpin Partai Buruh meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum Juli 2024, hanya bertahan dua tahun di puncak kekuasaan. Serangkaian langkah kontroversial dan kegagalan komunikasi publik disebut sebagai penyebab merosotnya popularitasnya. Jajak pendapat terakhir menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerjanya anjlok hingga di bawah 30 persen, sementara Partai Buruh kehilangan dukungan signifikan dari basis pemilih tradisional.
Pemicu langsung pengunduran diri Starmer adalah kekalahan telak dalam pemilu sela (by-election) pekan lalu, di mana kandidat dari sayap kanan partai, Andy Burnham, berhasil merebut kursi parlemen yang sebelumnya dipegang oleh sekutu dekat Starmer. Burnham, yang sebelumnya menjabat Wali Kota Greater Manchester, langsung dicalonkan sebagai pengganti Starmer dalam bursa pemimpin partai. Ia diperkirakan akan diresmikan sebagai anggota parlemen pada hari yang sama dengan pengumuman Starmer.
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar lima menit, Starmer tampak emosional saat menyebutkan pengabdiannya pada partai dan negara. "Pertanyaan yang diajukan partai saya sekarang adalah apakah saya orang yang tepat untuk memimpin kita menghadapi pemilu berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari fraksi parlemen, dan saya menerimanya dengan lapang dada," ujarnya. Saat ia mulai berbicara, sekelompok pengunjuk rasa di dekat lokasi memainkan lagu kebangsaan Uni Eropa, "Ode to Joy" karya Beethoven, sebagai sindiran atas kebijakan Brexit yang diusung Starmer.
Konteks Indonesia: Ketidakstabilan politik di Inggris, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, berpotensi mempengaruhi hubungan bilateral, terutama dalam hal investasi dan kerja sama perdagangan. Inggris saat ini sedang dalam proses negosiasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Indonesia. Pergantian kepemimpinan yang cepat dapat memperlambat proses ratifikasi dan implementasi kesepakatan tersebut. Selain itu, perubahan orientasi kebijakan luar negeri di bawah perdana menteri baru, terutama jika Burnham yang terpilih, patut dicermati karena ia dikenal lebih skeptis terhadap perjanjian perdagangan bebas dibandingkan pendahulunya.
Menurut analis politik dari University College London, Prof. Sarah Childs, situasi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang lebih dalam terhadap sistem politik Inggris. "Partai Buruh kini berada di persimpangan jalan. Mereka harus memilih antara kembali ke akar sosial-demokrat atau terus mengikuti jalur sentris yang ditempuh Starmer. Burnham mewakili opsi pertama," jelasnya. Sementara itu, Partai Konservatif yang kini menjadi oposisi utama diprediksi akan memanfaatkan kekacauan internal Partai Buruh untuk memperkuat posisi mereka menjelang pemilu berikutnya yang dijadwalkan pada 2029.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Burnham mampu menyatukan kembali faksi-faksi yang terpecah di Partai Buruh dan mengembalikan kepercayaan publik. Dengan waktu yang terbatas sebelum pemilu, ia harus segera membuktikan bahwa ia bukan sekadar alternatif, melainkan solusi bagi kebuntuan politik Inggris. Sementara itu, Starmer akan meninggalkan warisan yang pahit: kemenangan besar yang berubah menjadi kekalahan telak dalam waktu singkat.



