Prabowo Dorong BRIN Percepat Komersialisasi Inovasi Hijau: Genteng Sawit hingga Rumah Tahan Gempa 14 Hari
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memberikan sinyal kuat untuk mempercepat hilirisasi riset BRIN, terutama di bidang pengelolaan sampah dan material bangunan ramah lingkungan.
- Fokus utama pemerintah adalah mengintegrasikan inovasi seperti genteng berbasis limbah sawit dan rumah tahan gempa ke dalam program pembangunan nasional.
- Langkah ini berpotensi membuka peluang industri baru dan menarik investasi di sektor ekonomi hijau Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto secara langsung memberikan lampu hijau bagi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat hilirisasi sejumlah temuan strategis, mulai dari teknologi pengolahan sampah hingga material konstruksi ramah lingkungan. Apresiasi itu disampaikan saat pertemuan dengan para periset di halaman tengah Istana Kepresidenan, Kamis (tanggal tidak disebutkan), sebuah sinyal bahwa pemerintah serius menjadikan riset sebagai tulang punggung pembangunan berkelanjutan.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengungkapkan bahwa Presiden sangat antusias terhadap berbagai inovasi yang dipamerkan, terutama yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. "Beliau menekankan pentingnya kota dan desa yang bersih serta sehat, karena hal itu berkaitan erat dengan daya tarik wisata," ujarnya. Ini bukan sekadar seremoni; Prabowo disebut memberikan perhatian khusus pada teknologi pengelolaan sampah yang bisa diterapkan dari skala rumah tangga hingga kawasan perkotaan.
Di luar pengelolaan sampah, perhatian utama tertuju pada inovasi material bangunan. BRIN telah mengembangkan genteng ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah sawit dan serabut kelapa. Arif menjelaskan bahwa produk ini ringan, ramah lingkungan, dan telah diuji coba bersama TNI Angkatan Darat. "Kami juga punya rumah tahan gempa berbagai tipe yang bisa dibangun dalam 14 hari dan siap huni dalam 30 hari," tambahnya. Kecepatan konstruksi ini menjadi nilai jual penting di tengah kebutuhan hunian yang mendesak.
Ketertarikan Presiden juga menyasar industri sepatu berbahan baku limbah sawit. Menurut Arif, Prabowo melihat industri ini sebagai "industri rakyat" yang perlu dikembangkan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ekonomi kerakyatan yang berbasis sumber daya lokal. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang bagi para periset untuk mempresentasikan langsung hasil karya mereka, menunjukkan bahwa BRIN tidak hanya berhenti di laboratorium.
Bagi Indonesia, percepatan komersialisasi inovasi ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, ini dapat mengurangi ketergantungan pada material impor dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor pengolahan limbah. Di sisi lain, keberhasilan program ini akan menjadi ujian bagi sinergi antara lembaga riset, militer, dan sektor swasta dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Pertanyaannya, seberapa cepat regulasi dan pendanaan mampu mengikuti ambisi ini?
Ke depan, publik akan menunggu langkah konkret pemerintah dalam mengalokasikan anggaran dan insentif bagi riset terapan. Apakah inovasi-inovasi ini akan benar-benar menjangkau pasar luas, atau hanya menjadi pajangan di istana? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia mampu bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi produsen solusi berkelanjutan.



