Polisi Bagikan Snack dan Minuman ke Massa Aksi KNARA: Pendekatan Humanis di Depan DPR
Baca dalam 60 detik
- Polda Metro Jaya dan Polres Jakpus membagikan makanan ringan serta minuman kepada sekitar 350 demonstran KNARA di depan Gedung DPR/MPR RI.
- Kapolres Jakpus menegaskan langkah ini merupakan wujud pelayanan humanis dan kepastian hukum atas hak menyampaikan pendapat.
- Aksi berlangsung aman dan tertib, dengan pengaturan lalu lintas agar tidak mengganggu aktivitas warga sekitar.

Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Pusat mengambil langkah tak biasa dengan membagikan snack dan minuman kepada massa aksi Dewan Pengurus Nasional Koalisi Nasional Reforma Agraria (DPN KNARA) yang berunjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Senin (22/6/2026). Langkah ini menjadi sorotan karena menggambarkan pendekatan persuasif dan humanis dalam pengamanan demonstrasi.
Sekitar 350 peserta aksi tiba di lokasi sejak pukul 10.48 WIB dengan membawa mobil komando, spanduk, poster, dan berbagai alat peraga. Mereka bergantian menyampaikan orasi di depan gedung parlemen. Namun, yang menarik perhatian adalah kehadiran personel kepolisian yang tidak hanya berjaga, tetapi juga membagikan makanan ringan dan minuman kepada para demonstran.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Dr. Reynold E.P. Hutagalung menjelaskan bahwa pembagian tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap warga yang menggunakan hak konstitusionalnya. “Polri hadir untuk melayani dan mengamankan masyarakat yang menyampaikan pendapat. Kami mengedepankan pendekatan humanis agar kegiatan berjalan tertib, damai, dan kondusif,” ujarnya.
Menurut Kombes Reynold, pembagian snack dan minuman menjadi bagian dari upaya menjaga suasana aksi tetap sejuk. Selain itu, jajarannya juga melakukan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi agar penyampaian pendapat tidak mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. “Personel di lapangan diarahkan untuk bertindak humanis, profesional, dan tidak mudah terpancing. Kami mengajak seluruh peserta aksi menjaga ketertiban bersama,” tambahnya.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan doktrin Polri yang menekankan pelayanan prima dan perlindungan hak asasi manusia. Dalam konteks Indonesia, di mana demonstrasi kerap berujung ketegangan, langkah Polres Jakpus bisa menjadi model bagi penanganan aksi unjuk rasa di daerah lain. Masyarakat dan pengamat menilai bahwa pendekatan humanis seperti ini dapat mengurangi potensi gesekan dan menciptakan ruang dialog yang lebih konstruktif.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di lokasi terpantau aman, tertib, dan kondusif. Tidak ada insiden berarti yang dilaporkan. Para demonstran pun tampak menghargai langkah kepolisian dengan tetap menjaga ketertiban.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pendekatan serupa akan diterapkan secara konsisten di berbagai aksi demonstrasi lainnya? Jika ya, hal ini bisa menjadi perubahan paradigma dalam hubungan antara aparat dan masyarakat, dari yang represif menjadi lebih dialogis. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kesiapan personel dan komitmen pimpinan di tingkat pusat.



