Iran Tinggalkan Pesan Penuh Makna di Ruang Ganti Usai Tahan Imbang Belgia di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Iran menulis surat terima kasih kepada Los Angeles di ruang ganti SoFi Stadium setelah bermain imbang 0-0 melawan Belgia, menjaga asa lolos ke fase gugur.
- Iran menjadi satu-satunya tim yang harus bermarkas di Tijuana, Meksiko, dan pulang-pergi ke AS akibat pembatasan visa yang dikritik pelatih sebagai diskriminatif.
- Pesan tersebut menekankan kebanggaan, kehormatan, dan martabat bangsa Iran, serta menyerukan perdamaian dan persahabatan antarbangsa.

Tim nasional Iran meninggalkan sebuah catatan tulisan tangan di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles, setelah pertandingan Piala Dunia 2026 melawan Belgia yang berakhir imbang tanpa gol pada Minggu (21/6). Surat tersebut berisi ucapan terima kasih atas keramahan kota Los Angeles dan pernyataan bahwa Iran meninggalkan stadion dengan harga diri, setelah dua laga grup yang penuh tantangan.
Hasil imbang 0-0 melawan Belgia membuat Iran masih memiliki peluang untuk lolos ke babak 16 besar. Mereka akan menghadapi Mesir di laga pamungkas Grup G yang digelar di Seattle. Sebelumnya, Iran juga bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru di stadion yang sama. Dengan dua poin, posisi Iran masih terbuka untuk merebut tiket ke fase knockout, tergantung hasil laga lainnya.
Yang membuat perjalanan Iran di turnamen ini unik adalah mereka harus menjalani laga kandang dan tandang secara harfiah. Karena pembatasan visa dan aturan imigrasi Amerika Serikat, seluruh skuad Iran tidak bisa tinggal di wilayah AS selama turnamen. Mereka memilih markas di Tijuana, Meksiko, dan melakukan perjalanan pulang-pergi setiap kali bertanding di Los Angeles. Sejumlah staf dan ofisial tim bahkan dilarang masuk ke Amerika Serikat.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, berulang kali mengkritik kebijakan ini sebagai ketidakadilan yang tidak dialami tim lain. "Kami menghadapi rintangan yang tidak seharusnya terjadi dalam olahraga," ujarnya dalam beberapa kesempatan. Pemerintah AS menyatakan akan terus mengevaluasi pengaturan perjalanan tim Iran, namun hingga kini belum ada perubahan signifikan.
Catatan yang ditinggalkan di ruang ganti SoFi Stadium itu dibagikan oleh Federasi Sepak Bola Iran. "Dari Persia kuno ribuan tahun lalu hingga Iran yang beradab saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh," demikian bunyi surat tersebut. "Kami datang ke Los Angeles dengan bangga, bertanding dengan hormat, dan pergi dengan martabat." Surat itu juga mengucapkan terima kasih kepada para pendukung Iran yang telah memberikan "hati, suara, dan jiwa" mereka selama dua pertandingan, serta diakhiri dengan seruan untuk perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan di antara semua bangsa.
Bagi Indonesia, kisah Iran ini memberikan pelajaran tentang bagaimana politik dan olahraga kerap tak terpisahkan. Meski Piala Dunia seharusnya menjadi ajang pemersatu, kenyataannya sejumlah negara masih menghadapi hambatan diplomatik yang memengaruhi partisipasi mereka. Indonesia, yang tengah giat membangun sepak bola nasional, bisa mencatat bahwa perjuangan di luar lapangan kadang sama beratnya dengan di dalam lapangan. Ke depan, apakah FIFA akan mendorong kebijakan yang lebih inklusif agar semua tim mendapat perlakuan setara? Ataukah insiden seperti ini justru akan menjadi preseden bagi turnamen-turnamen mendatang?



