Kemenangan Tipis Kandidat Pro-AS di Kolombia: Ancaman Baru bagi Perdamaian?
Baca dalam 60 detik
- Abelardo de la Espriella, pengacara flamboyan yang didukung AS, memenangkan Pilpres Kolombia dengan selisih kurang dari 1% suara.
- Kemenangan ini mengancam proses perdamaian yang rapuh dengan kelompok gerilya dan memicu protes di kota Cali.
- Kebijakan garis keras yang dijanjikan berpotensi mengubah dinamika keamanan dan ekonomi di kawasan, termasuk dampak tidak langsung bagi Indonesia.

Kolombia resmi memasuki babak baru politik setelah pengacara flamboyan yang didukung Amerika Serikat, Abelardo de la Espriella, memenangkan pemilihan presiden putaran kedua dengan margin tipis. Kemenangan yang diraih pada Minggu (21/6) ini membawa negara tersebut ke arah kebijakan keamanan garis keras dan berpotensi menguji ketahanan proses perdamaian yang telah berjalan satu dekade.
Berdasarkan penghitungan hampir seluruh tempat pemungutan suara, De la Espriella meraih 49,66 persen suara, unggul tipis dari lawannya, Senator sayap kiri Ivan Cepeda, yang memperoleh 48,70 persen. Kemenangan ini sekaligus mengakhiri dominasi politik kiri yang sempat menguat di Kolombia dan memperpanjang gelombang kemenangan kandidat konservatif di Amerika Latin yang mengusung janji "tangan besi" dalam menangani kejahatan dan pemberontakan.
Bagi Washington, hasil pemilu ini menjadi angin segar. Hubungan bilateral yang sempat renggang di bawah pemerintahan sebelumnya diprediksi akan membaik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio langsung menyambut hangat, menyatakan bahwa "hari-hari terbaik Kolombia ada di depan" dan berharap dapat bekerja sama erat dengan pemerintahan baru. Dukungan juga mengalir dari Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pemimpin sayap kanan di kawasan.
Namun, euforia kemenangan tidak merata. Di kota Cali, ribuan pendukung Cepeda turun ke jalan, membakar bendera AS, dan bentrok dengan polisi anti-huru-hara. Pemandangan ini kontras dengan perayaan di kota-kota lain, di mana para pendukung De la Espriella—yang mengenakan jersey kuning tim nasional sepak bola—berpesta di jalanan. "Saya sangat bahagia. Saya percaya pada negara ini, saya percaya pada kebebasan," ujar Daniela Oliveros, seorang pendukung di Barranquilla.
De la Espriella, yang dijuluki "El Tigre", berusaha menenangkan kekhawatiran dengan nada rekonsiliasi. "Pemerintahan saya akan benar-benar demokratis dan menjadi penjamin kebebasan serta ketertiban institusional," katanya, seraya berjanji menghormati semua ras, agama, dan afiliasi politik. Namun, sikapnya selama kampanye—mengancam akan membatalkan perundingan damai dengan kelompok pembangkang dan melancarkan serangan udara—menimbulkan tanda tanya besar.
Kemenangan ini menjadi ujian bagi perjanjian damai yang ditandatangani dengan kelompok gerilya FARC sepuluh tahun lalu. Meskipun sebagian besar wilayah Kolombia telah menikmati kemajuan ekonomi, kartel narkoba dan kelompok pembangkang masih menguasai kantong-kantong tertentu. Ekspor kokain justru mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, dan kesenjangan ekonomi tetap menjadi masalah kronis. Kebijakan "tangan besi" yang dijanjikan De la Espriella berpotensi membalikkan kemajuan yang telah dicapai.
Bagi Indonesia, dinamika politik Kolombia memiliki relevansi tersendiri. Sebagai sesama negara berkembang yang kaya sumber daya alam dan menghadapi tantangan separatisme serta kejahatan transnasional, pendekatan Kolombia dalam menangani konflik internal patut dicermati. Jika kebijakan garis keras berhasil, hal itu bisa menjadi model bagi negara lain. Namun, jika gagal dan memicu kekerasan baru, dampaknya bisa terasa pada stabilitas pasar komoditas global, mengingat Kolombia adalah salah satu produsen kopi, minyak, dan batu bara utama.
Sementara itu, lawannya, Ivan Cepeda, belum mengakui kekalahan. Ia menunggu verifikasi akhir penghitungan suara, meskipun secara matematis hampir mustahil baginya untuk membalikkan keadaan. De la Espriella memperingatkan Cepeda untuk menghormati demokrasi dan tidak memicu kekerasan. "Harimau masih bisa menggigitmu lebih keras daripada yang telah ia gigit di kotak suara," ancamnya.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah Kolombia mampu menjaga perdamaian yang rapuh di tengah polarisasi yang mendalam? Atau justru akan kembali ke masa lalu yang kelam dengan kekerasan dan ketidakstabilan? Jawabannya akan menentukan tidak hanya masa depan 50 juta warga Kolombia, tetapi juga peta politik dan ekonomi Amerika Latin secara keseluruhan.



