Thailand Targetkan Potensi Ekonomi 3% pada 2030: Empat Pilar Jadi Andalan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Thailand mengumumkan target peningkatan potensi pertumbuhan ekonomi dari 2,7% menjadi 3% pada 2030 melalui strategi empat pilar.
- Pemerintah Thailand mengandalkan investasi baru, perdagangan, pariwisata, pertanian, serta pengembangan sumber daya manusia untuk mencapai target tersebut.
- Langkah ini relevan bagi Indonesia sebagai sesama negara ASEAN yang tengah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Thailand berambisi meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi tahunannya dari 2,7 persen menjadi 3,0 persen pada tahun 2030. Target ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan Ekniti Nitithanprapas pada Senin (22/6) di Bangkok, menandai langkah strategis pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi jangka menengah.
Dalam paparan yang disiarkan Kementerian Keuangan, pemerintah akan menggerakkan roda ekonomi melalui empat pilar utama. Pertama, mendorong investasi baru di sektor-sektor produktif. Kedua, mengembangkan perdagangan dan jasa, terutama pariwisata dan pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian Thailand. Ketiga, membangun sumber daya manusia melalui riset dan pengembangan strategis. Keempat, mempermudah iklim bisnis agar lebih kondusif bagi investor.
Langkah ini diambil di tengah tekanan ekonomi global. Kelompok bisnis terkemuka Thailand pekan lalu merevisi naik proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 1,6β2,0 persen, didorong oleh stimulus pemerintah. Tahun lalu, ekonomi Thailand tumbuh 2,4 persen. Untuk meredam dampak kenaikan biaya hidup, pemerintah telah meluncurkan skema subsidi konsumen senilai 176 miliar baht (sekitar US$5,4 miliar).
Sebelumnya, Menteri Keuangan Ekniti memperkirakan pertumbuhan bisa menembus 3 persen dalam satu hingga dua tahun ke depan berkat investasi baru. Namun, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (NESDC) masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 di kisaran 1,5β2,5 persen, meskipun kuartal pertama tercatat lebih kuat dari ekspektasi. NESDC menyebut konflik di Timur Tengah sebagai faktor risiko yang membayangi.
βPemerintah berkomitmen mendorong investasi baru dan reformasi struktural untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan,β demikian pernyataan resmi Kementerian Keuangan.
Bagi Indonesia, langkah Thailand ini menjadi cerminan penting. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia juga tengah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dengan mengandalkan investasi, hilirisasi, dan pengembangan SDM. Keberhasilan Thailand dalam menjalankan empat pilar tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam merumuskan kebijakan serupa, terutama dalam hal kemudahan berbisnis dan pengembangan pariwisata.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Thailand mampu merealisasikan target ambisius ini di tengah ketidakpastian global dan tekanan fiskal. Dengan stimulus yang sudah digelontorkan dan komitmen reformasi, peluang untuk mencapai potensi 3 persen terbuka, namun tantangan eksternal seperti perang dagang dan konflik geopolitik tetap menjadi variabel pengganggu.



