Prabowo Panggil Brian Yuliarto dan Rosan Roeslani ke Istana: Ada Apa?
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memanggil Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto dan Menteri Investasi Rosan Roeslani ke Istana pada Senin siang, dengan agenda yang belum diumumkan secara resmi.
- Brian Yuliarto mengaku hadir untuk mengantar profesor Imperial College London terkait kerja sama pendidikan, sementara Rosan enggan berkomentar.
- Pertemuan ini terjadi di tengah rencana pendirian kampus Russell Group di Jakarta yang didukung Presiden, serta laporan PLN mengenai pemadaman listrik di Jawa.

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan dua menteri andalannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (22/6) siang. Kedatangan mereka yang nyaris bersamaan memicu spekulasi mengenai agenda strategis yang dibahas, terutama di tengah isu pemadaman listrik dan rencana investasi pendidikan asing.
Rosan Roeslani tiba sekitar pukul 13.20 WIB dengan tergesa-gesa. Saat dicegat wartawan, ia hanya melontarkan permintaan maaf karena terlambat dan langsung masuk tanpa memberikan keterangan lebih lanjut. Sementara itu, Brian Yuliarto mengaku kedatangannya kali ini bukan untuk membahas anggaran atau kebijakan internal, melainkan untuk mengantar profesor dari Imperial College London. "Ada mengantar profesor dari Imperial College terkait kerja sama Indonesia dengan Imperial College," ujarnya singkat. Ia menambahkan bahwa kerja sama tersebut akan berfokus pada bidang pendidikan.
Pertemuan ini berlangsung hanya beberapa jam setelah Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo bersama jajarannya lebih dulu melapor ke Presiden Prabowo sekitar pukul 12.00 WIB. Laporan tersebut diduga kuat berkaitan dengan pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari Istana mengenai apakah pemadaman tersebut turut dibahas dalam pertemuan dengan para menteri.
Konteks kunjungan Brian Yuliarto tidak bisa dilepaskan dari dorongan pemerintah untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi dengan Inggris. Sebelumnya, Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey menyatakan harapannya agar kampus-kampus anggota Russell Group—asosiasi 24 universitas riset terkemuka Inggris seperti Oxford, Cambridge, dan Imperial College—segera hadir di Jakarta. Pernyataan itu disampaikan Jermey dalam acara King's Birthday Party di Jakarta, Rabu (10/6) malam. Menurut Jermey, Presiden Prabowo telah memberikan sinyal dukungan terhadap rencana tersebut, yang dinilai sebagai langkah positif bagi akses generasi muda Indonesia terhadap pendidikan kelas dunia.
Jermey juga mencatat bahwa beberapa universitas Inggris telah lebih dulu membuka program di Indonesia, seperti King's College London di Malang, serta Lancaster University dan Deakin University di Bandung. Kehadiran institusi-institusi ini, menurutnya, membuka peluang bagi pelajar Indonesia untuk meraih pendidikan internasional tanpa harus pergi ke luar negeri. Jika rencana pendirian kampus Russell Group terealisasi, Indonesia akan menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang menjadi tujuan ekspansi universitas elit Inggris, sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, pertemuan dengan Rosan Roeslani mengindikasikan adanya pembahasan mengenai investasi dan hilirisasi, mengingat portofolionya yang mencakup BKPM. Meski tidak ada pernyataan resmi, analis menilai bahwa Presiden Prabowo kemungkinan membahas percepatan realisasi investasi di sektor pendidikan dan energi, terutama terkait dengan rencana pembangunan kampus asing dan penanganan krisis listrik. Pemadaman bergilir di Jawa menjadi perhatian serius karena dapat mengganggu aktivitas industri dan kepercayaan investor.
Ke depan, publik menanti kejelasan mengenai hasil pertemuan ini. Apakah kerja sama dengan Imperial College akan segera diumumkan dalam waktu dekat? Dan bagaimana pemerintah menyelaraskan kebutuhan investasi pendidikan dengan stabilitas pasokan listrik nasional? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam pekan-pekan mendatang.



