Roket SpaceX Jatuh ke Bulan: Tabrakan Tak Disengaja yang Bisa Mengubah Cara Kita Memantau Sampah Antariksa
Baca dalam 60 detik
- Tahap atas roket Falcon 9 milik SpaceX menghantam permukaan Bulan pada Rabu (5/8) setelah kehilangan kendali, meninggalkan kawah yang diprediksi para ilmuwan.
- Tabrakan yang tidak disengaja ini tidak membahayakan Bumi, namun menegaskan risiko sampah antariksa yang kian menumpuk di orbit.
- Peristiwa ini menjadi momentum bagi badan antariksa global untuk memperketat aturan peluncuran dan meningkatkan kemampuan deteksi objek luar angkasa.

Sebuah bagian roket SpaceX seukuran bus menghantam permukaan Bulan pada Rabu pagi (5/8), membenarkan prediksi para astronom yang telah memantau lintasannya selama berminggu-minggu. Tabrakan yang tidak disengaja ini meninggalkan kawah baru di sisi jauh Bulan dan menjadi pengingat akan meningkatnya risiko sampah antariksa di orbit Bumi.
Berdasarkan pengamatan teleskop Very Large Telescope milik European Southern Observatory (ESO) di Cile, para ilmuwan mendeteksi gumpalan gas natrium dan litium yang muncul 5โ10 menit setelah tumbukan. ESO menyebutnya sebagai "sidik jari kimia" dari material yang terlempar akibat benturan. Natrium diperkirakan berasal dari tanah Bulan, sementara litium diduga berasal dari badan roket itu sendiri.
Roket Falcon 9 yang diluncurkan pada Januari 2025 itu membawa dua pendarat bulan. Setelah booster kembali ke Bumi, tahap kedua roket justru terdorong oleh kombinasi aktivitas matahari dan gaya gravitasi sehingga menyimpang dari jalur aman. Julianna Scheiman, direktur program NASA Science and Dragon di SpaceX, mengakui bahwa perusahaan telah melakukan manuver standar untuk mengamankan roket, tetapi "campuran aktivitas matahari dan gaya gravitasi telah menempatkannya pada jalur menuju Bulan".
Tabrakan ini tidak menimbulkan bahaya bagi Bumi, seperti ditegaskan NASA sebelum peristiwa terjadi. Namun, dampaknya jauh lebih luas: badan antariksa seperti NASA dan Korea Selatan kini berupaya mendokumentasikan kawah yang terbentuk untuk mempelajari lebih dalam tentang komposisi Bulan dan perilaku sampah antariksa. Benjamin Fernando dari Los Alamos National Laboratory, penulis utama studi tentang dampak ini, mengonfirmasi bahwa tumbukan benar-benar terjadi. "Saya dapat memastikan bahwa dampaknya memang terjadi," ujarnya kepada AFP.
Peristiwa ini menyoroti masalah yang lebih besar: semakin banyaknya "sampah antariksa" yang mengorbit Bumi. Tahap roket Falcon 9 hanyalah satu dari puluhan ribu objek buatan manusia yang mengelilingi planet kita. Para ahli memperingatkan bahwa penumpukan sampah ini dapat memicu reaksi berantai tabrakan yang dikenal sebagai sindrom Kessler, yang berpotensi membuat orbit Bumi tidak aman bagi satelit dan misi antariksa di masa depan.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola antariksa yang lebih ketat. Meskipun Indonesia belum memiliki program antariksa yang besar, negara ini mulai melirik pemanfaatan satelit untuk komunikasi dan observasi bumi. Dengan meningkatnya aktivitas peluncuran roket di kawasan Asia Tenggara, risiko sampah antariksa juga ikut naik. Kolaborasi internasional dalam pemantauan dan mitigasi sampah antariksa menjadi semakin krusial, termasuk bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada layanan satelit.
NASA berencana membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan melalui program Artemis. Untuk itu, pemahaman tentang sampah antariksa di orbit bulan menjadi prioritas. Tabrakan yang tidak disengaja ini justru memberikan data berharga tentang bagaimana objek buatan berinteraksi dengan permukaan Bulan. Namun, para ilmuwan juga mengingatkan bahwa insiden seperti ini seharusnya tidak menjadi kebiasaan. Diperlukan regulasi yang lebih ketat untuk memastikan setiap peluncuran roket memperhitungkan jalur akhir dari setiap komponennya.
Sementara itu, para pengamat antariksa seperti Bill Gray mengakui bahwa sulit untuk mengamati dampak dari Bumi. "Sejujurnya, ini sesuai dengan yang kami perkirakan," katanya. "Tetapi akan sangat menyenangkan jika kami terbukti salah." Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah insiden ini menjadi katalis bagi perubahan kebijakan antariksa global, atau justru dianggap sebagai risiko yang tak terhindarkan dari eksplorasi luar angkasa?



