Hasto: ASI Eksklusif Kunci Lawan Stunting, Bukan Sekadar Seremoni
Baca dalam 60 detik
- PDIP menggelar puncak peringatan Hari ASI Sedunia di Sukabumi, menegaskan gizi anak sebagai fondasi peradaban bangsa.
- Kabupaten Sukabumi mencatat prevalensi stunting 20,5 persen, salah satu yang tertinggi di Jawa Barat, mendorong intervensi langsung partai.
- Edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan pelurusan mitos ASI menjadi fokus untuk menekan angka stunting secara nasional.

Peringatan Hari ASI Sedunia tahun ini tidak hanya dimaknai sebagai agenda kesehatan rutin, melainkan juga sebagai gerakan strategis untuk membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa pemenuhan gizi bayi melalui ASI eksklusif merupakan investasi jangka panjang yang menentukan daya saing bangsa di masa depan.
Dalam acara puncak yang digelar di Lapangan Sekarwangi, Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Rabu (6/8), Hasto menyampaikan bahwa politik yang sejati adalah membangun peradaban, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Ia menekankan bahwa kemajuan Indonesia ke depan sangat bergantung pada kualitas generasi penerus, yang dimulai dari pemenuhan nutrisi pada seribu hari pertama kehidupan. Pernyataan ini sekaligus menggarisbawahi komitmen partai untuk hadir di tengah persoalan riil masyarakat, khususnya dalam isu kesehatan ibu dan anak.
Data yang disampaikan Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono, menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Kabupaten Sukabumi mencapai 20,5 persen, menempatkan daerah tersebut dalam lima besar tertinggi di provinsi. Angka ini menjadi perhatian serius, mengingat dampak jangka panjang stunting tidak hanya pada tinggi badan, tetapi juga pada kemampuan kognitif anak. Menanggapi hal itu, Hasto memberikan resep sederhana namun konkret: para pemimpin daerah harus lebih sering turun ke lapangan, bertemu langsung dengan para ibu, dan memberikan edukasi yang tepat, terutama kepada pasangan yang baru menikah.
Momentum edukasi semakin diperkuat dengan kehadiran Ketua DPP PDIP Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, yang secara langsung memberikan pemahaman kepada puluhan ibu menyusui di lokasi acara. Ribka menjelaskan bahwa stunting berkaitan erat dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, yang terdiri dari 270 hari dalam kandungan dan 730 hari setelah kelahiran. Ia juga meluruskan kesalahpahaman di masyarakat bahwa stunting hanya diukur dari tinggi badan, padahal yang lebih krusial adalah perkembangan intelektual anak. Selain itu, ia membantah mitos yang menyebut menyusui dapat menyebabkan payudara kendur, serta mengingatkan pentingnya kolostrum bagi daya tahan tubuh bayi.
Bagi Indonesia, isu stunting bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan juga ancaman terhadap kualitas modal manusia dan produktivitas ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024, namun realisasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kesenjangan akses informasi dan layanan kesehatan di daerah. Langkah partai politik dalam mengedukasi masyarakat, seperti yang dilakukan PDIP, dapat menjadi katalis percepatan penurunan angka stunting, terutama jika diiringi kebijakan yang berpihak pada ibu dan anak.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana komitmen politik ini diterjemahkan ke dalam program yang berkelanjutan, bukan hanya seremonial tahunan. Apakah partai politik lain akan mengikuti jejak serupa, dan apakah pemerintah daerah akan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk intervensi gizi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah Indonesia mampu melahirkan generasi emas yang sehat dan cerdas, atau terus bergulat dengan masalah stunting yang menghambat kemajuan bangsa.



