Harga Minyak Stabil di Tengah Ketegangan Hormuz: Negosiasi Iran-Oman Belum Redakan Risiko Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah bergerak flat tipis karena pasar menunggu kepastian kesepakatan Iran-Oman soal Selat Hormuz, sementara serangan Houthi memicu kekhawatiran pasokan baru.
- Ekspor minyak negara Teluk masih 40% di bawah level sebelum konflik, dan potensi gangguan di jalur energi utama tetap menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga.
- Ke depannya, pasar akan fokus pada realisasi peningkatan volume ekspor dan eskalasi serangan di Laut Merah, yang bisa mendorong harga lebih tinggi atau memicu intervensi kebijakan.

Harga minyak mentah dunia nyaris tak bergerak pada perdagangan Kamis (6/8), saat pelaku pasar mencermati kelanjutan negosiasi antara Iran dan Oman yang diharapkan dapat memulihkan arus pasokan melalui Selat Hormuz. Namun, laporan serangan terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah dan Teluk Aden kembali menyalakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan penghasil minyak utama dunia.
Brent crude tercatat menguat tipis 9 sen (0,11 persen) ke level 79,54 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 5 sen (0,07 persen) ke 75,27 dolar AS per barel. Pergerakan yang minim ini mencerminkan sikap wait-and-see investor di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti situasi geopolitik Timur Tengah.
Ketegangan sebenarnya belum mereda. Iran dan Oman memang telah mencapai kesepahaman mengenai koordinat geografis jalur pelayaran di Selat Hormuz, dan pengumuman bersama tengah difinalisasi. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengingatkan bahwa hal ini masih bergantung pada tidak adanya intervensi pihak ketiga. Lebih jauh, bocoran rencana kesepakatan yang diungkapkan sumber senior Iran dan dua pejabat regional kepada Reuters menyebutkan bahwa Tehran akan diberikan kendali atas kapal-kapal yang memasuki Teluk melalui selat tersebutโsebuah konsesi besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Analis pasar memandang perkembangan ini dengan skeptis. Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, mengingatkan bahwa para trader masih ingat betapa rapuhnya nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu. "Sampai kita melihat peningkatan volume yang berkelanjutan dan terverifikasi, pasar akan terus memperhitungkan risiko pasokan," ujarnya. Data pelayaran menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat negara-negara Teluk pada Juli masih sekitar 40 persen di bawah level sebelum perang, menandakan pemulihan yang belum signifikan.
Ancaman terhadap infrastruktur energi kian nyata. Iran telah memperingatkan negara-negara Teluk bahwa serangan AS berikutnya akan memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi vital di seluruh kawasan. Sementara itu, kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke kapal tanker Saudi di dekat pelabuhan Yanbu dan di Teluk Aden. Meski klaim ini belum dikonfirmasi Arab Saudi, Roberto Cominotto, analis riset ekuitas di Julius Baer, menilai serangan Houthi sejauh ini belum mengganggu pasokan secara signifikan, tetapi potensi eskalasi tetap menjadi momok.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak harga akan berdampak pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Kementerian Keuangan telah mengalokasikan tambahan subsidi energi dalam APBN 2025, namun jika harga bertahan di atas 80 dolar AS per barel, tekanan fiskal bisa meningkat. Selain itu, ketidakstabilan di Timur Tengah juga berpotensi mengganggu rantai pasokan dan biaya logistik, yang pada akhirnya memengaruhi harga barang-barang konsumen di dalam negeri.
Di sisi lain, Arab Saudi telah menurunkan harga jual resmi untuk minyak Arab Light ke Asia pada September, sebuah sinyal bahwa produsen utama berusaha mempertahankan pangsa pasar di tengah ketidakpastian permintaan. Langkah ini bisa menjadi angin segar bagi negara-negara pengimpor seperti Indonesia, yang berpotensi mendapatkan harga impor yang lebih murah. Namun, efek ini bisa tergerus jika risiko geopolitik terus meningkat.
Ke depan, pasar akan mengawasi apakah kesepakatan Iran-Oman benar-benar terwujud dan mampu meningkatkan volume ekspor secara nyata. Pertanyaan besarnya: mampukah diplomasi meredakan ketegangan yang sudah berlarut-larut ini, atau justru eskalasi serangan di Laut Merah akan memicu lonjakan harga yang lebih tajam? Bagi Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan seberapa besar ruang fiskal yang harus disiapkan untuk mengantisipasi gejolak energi global.



