Formula E Siap Geser Pembuka Musim ke Meksiko Jika Arab Saudi Tak Aman
Baca dalam 60 detik
- CEO Formula E, Jeff Dodds, menyatakan keyakinan tinggi balapan pembuka musim 2026-27 di Jeddah tetap berlangsung Desember mendatang, namun opsi cadangan sudah disiapkan.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk blokade laut Houthi dan perang Iran, memaksa seri balap listrik itu menyiapkan rencana darurat untuk memindahkan laga pembuka.
- Jika Jeddah batal, musim baru dipastikan baru akan dimulai di Meksiko pada Januari, tanpa balapan pengganti di Desember.

Formula E memastikan kesiapan mereka untuk memulai musim 2026-27 di Arab Saudi pada Desember mendatang, namun tak menutup kemungkinan menggeser laga pembuka ke Meksiko pada Januari jika situasi keamanan di kawasan Timur Tengah memburuk. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO Formula E, Jeff Dodds, di sela-sela persiapan final musim di London, Kamis (6/8).
Kejuaraan yang dinaungi Liberty Global itu dijadwalkan menggelar dua seri perdana di Jeddah pada 18-19 Desember, sekaligus menandai era baru mobil Gen4. Setelah itu, rombongan akan bertolak ke Mexico City untuk balapan pada 16 Januari. Namun, konflik yang sedang memanas di kawasan Teluk membuat kalender yang sudah tersusun rapi itu bisa berubah sewaktu-waktu.
Ketegangan dimulai sejak Februari lalu ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Situasi semakin rumit dengan adanya blokade laut yang diberlakukan kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran di Laut Merah sejak Juli, yang menargetkan kapal-kapal tanker sebagai bentuk protes atas apa yang mereka sebut sebagai pengepungan Arab Saudi terhadap Yamanโtuduhan yang dibantah Riyadh.
Kondisi ini memaksa berbagai ajang balap dunia untuk bersikap ekstra hati-hati. Formula One, misalnya, sudah membatalkan seri Bahrain dan Arab Saudi pada April lalu dan memindahkan Bahrain ke Malaysia pada Oktober. Bos F1, Stefano Domenicali, juga mengisyaratkan bahwa keputusan untuk balapan di Qatar dan Abu Dhabi pada November-Desember akan diambil bulan depan, dengan opsi mengakhiri musim di sirkuit Eropa jika situasi tidak memungkinkan.
Dodds mengakui bahwa memantau situasi yang berubah cepat dari Juli-Agustus untuk balapan di Desember bukanlah hal yang ideal. Namun, ada titik di mana keputusan harus diambil, terutama karena logistik dan pengiriman mobil sudah harus dimulai. "Secara pribadi, saya sangat yakin balapan di Jeddah akan tetap berjalan pada Desember," ujarnya. "Tapi jika kami sepakat bahwa itu bukan keputusan yang tepat, kami sudah menyiapkan tanggal cadangan di kalender untuk memindahkan balapan."
Yang menarik, Dodds menegaskan bahwa jika Jeddah batal, mereka tidak akan mencari pengganti di bulan yang sama. "Kalau kami tidak bisa memulai musim di Arab Saudi pada Desember, maka musim akan langsung dimulai pada Januari di Meksiko," jelasnya. Ini berarti kalender balap listrik akan mengalami jeda panjang, yang tentu berdampak pada ritme kompetisi dan kesiapan tim-tim peserta.
Keputusan Formula E untuk tetap optimis namun menyiapkan rencana cadangan ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi olahraga global di tengah ketidakpastian geopolitik. Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dan sempat menjadi tuan rumah ajang balap internasional, situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kalender olahraga global. Ketegangan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada logistik dan keamanan, tetapi juga pada investasi dan kepercayaan publik terhadap ajang-ajang besar.
Di sisi lain, keputusan ini juga membuka peluang bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk menarik ajang balap listrik jika situasi di Timur Tengah terus memanas. Dengan infrastruktur yang semakin baik dan antusiasme masyarakat yang tinggi, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi tuan rumah pengganti di masa depan. Namun, semua itu masih bergantung pada bagaimana konflik di kawasan tersebut berkembang dalam beberapa bulan ke depan.
Pertanyaan besarnya, akankah ketegangan di Laut Merah mereda sebelum Desember, atau justru semakin memanas? Jika situasi tidak membaik, bukan hanya Formula E yang harus mengubah rencana, tetapi juga ajang-ajang besar lainnya seperti F1 dan WRC. Dunia balap internasional tampaknya harus bersiap menghadapi musim yang penuh ketidakpastian, dan keputusan-keputusan sulit akan terus bermunculan.



