Saham Accenture Ambles 18%, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp2.136 Triliun: AI Ancam Bisnis Konsultan Tradisional?
Baca dalam 60 detik
- Accenture kehilangan US$120 miliar nilai pasar setelah sahamnya jatuh ke level terendah sejak 2017, dipicu revisi proyeksi pendapatan yang mengecewakan.
- CEO Julie Sweet mengakui anggaran TI klien tidak bertambah meski AI berkembang, memaksa Accenture menggenjot akuisisi di bidang keamanan siber.
- Fenomena ini menjadi peringatan bagi perusahaan jasa TI Indonesia yang mulai mengadopsi AI, karena model bisnis konsultasi tradisional berpotensi tergerus.

Gelombang kecerdasan buatan (AI) yang dipuja sebagai masa depan industri justru menghantam salah satu raksasa konsultan global. Saham Accenture anjlok 18 persen dalam sepekan, menyeret kapitalisasi pasarnya ke bawah US$80 miliar—atau lenyap US$120 miliar (Rp2.136 triliun) sejak puncak pasca-pandemi. Investor panik bukan karena AI gagal, melainkan karena AI justru menggerus bisnis inti Accenture: outsourcing dan konsultasi TI tradisional.
Dalam laporan kuartal terbaru, Accenture mengumumkan pemesanan baru hanya US$19,3 miliar pada tiga bulan hingga Mei 2025, turun 3 persen secara tahunan. Perusahaan juga merevisi panduan pertumbuhan pendapatan setahun penuh menjadi tidak lebih dari 4 persen, dari sebelumnya 3-5 persen. Angka-angka ini memicu aksi jual besar-besaran karena dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan besar mulai mengurangi ketergantungan pada konsultan manusia dan beralih ke solusi AI otonom.
CEO Julie Sweet berdalih bahwa perang di Timur Tengah memangkas pendapatan sekitar US$100 juta lebih dari perkiraan, serta memperlambat pengambilan keputusan klien global. Namun, analis menilai faktor geopolitik hanya sebagian kecil cerita. Surinder Thind dari Jefferies menyebut hasil ini “mengecewakan” dan memperingatkan bahwa “pertanyaan seputar ketahanan permintaan di dunia yang mengutamakan AI kemungkinan akan semakin meningkat.”
Fakta yang lebih mengkhawatirkan: Sweet sendiri mengakui bahwa anggaran TI perusahaan secara total tidak meningkat. “Bahkan dengan AI, mereka membelanjakannya secara berbeda, tetapi anggaran tersebut tidak meningkat,” ujarnya. Artinya, adopsi AI tidak menciptakan kue baru, melainkan hanya menggeser alokasi dari jasa konsultan ke pengembangan model dan infrastruktur AI—sebuah ancaman eksistensial bagi perusahaan jasa TI tradisional.
Untuk mengimbangi tekanan, Accenture mengubah strategi dengan agresif mengakuisisi perusahaan keamanan siber. Dalam sepekan, mereka mengumumkan pembelian runZero (penilaian kerentanan), NetRise (keamanan perangkat), dan saham mayoritas Dragos (keamanan siber teknologi operasional) dengan total nilai US$4,2 miliar. Sebelumnya, pada Januari, mereka juga mengakuisisi startup AI asal Inggris, Faculty, senilai US$1 miliar. Langkah ini menunjukkan bahwa Accenture berusaha bertransformasi menjadi penyedia solusi keamanan AI, bukan sekadar konsultan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi sinyal peringatan dini. Perusahaan jasa TI lokal seperti Telkomsel, Indosat, atau startup digital yang mengandalkan model konsultasi dan outsourcing harus mulai mengevaluasi ulang bisnis mereka. AI generatif dan agen otonom mampu menggantikan fungsi analis junior, programmer, hingga manajer proyek—pekerjaan yang selama ini menjadi tulang punggung industri jasa TI. Jika raksasa sekelas Accenture saja terpukul, bukan tidak mungkin perusahaan Indonesia akan mengalami nasib serupa dalam beberapa tahun ke depan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah AI akan menjadi alat yang memperkuat konsultan, atau justru pemusnahnya? Accenture tampaknya memilih jalan akuisisi dan diversifikasi. Namun, dengan anggaran TI klien yang stagnan, persaingan harga akan semakin ketat. Skenario terburuk: model bisnis konsultan tradisional perlahan mati, digantikan oleh platform AI yang lebih murah dan cepat. Waktu yang akan menjawab apakah transformasi Accenture cukup cepat untuk selamat dari gelombang disruptif yang mereka bantu ciptakan.



