Krisis Kepemimpinan Inggris: Starmer Terpojok, Burnham Siap Gantikan
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dikabarkan akan mengumumkan pengunduran diri pada Senin (22/6) setelah tekanan dari internal Partai Buruh.
- Andy Burnham, yang baru saja memenangkan kursi parlemen, diprediksi menjadi pengganti dan bisa langsung menjadi PM tanpa pemilihan umum.
- Jika Starmer lengser, Inggris akan memiliki perdana menteri ketujuh dalam satu dekade, mencerminkan ketidakstabilan politik yang akut.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dilaporkan akan mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Senin (22/6) waktu setempat, setelah gelombang tekanan dari kader Partai Buruh yang menghendaki suksesi kepemimpinan. Langkah ini bertepatan dengan momen Andy Burnham, rival internal yang baru saja memenangkan kursi parlemen, akan dilantik sebagai anggota Dewan Rakyat.
Burnham, yang menjabat Wali Kota Manchester Raya sejak 2017, memenangkan pemilihan sela di daerah pemilihan Makerfield dengan telak pekan lalu. Kemenangan itu membuka jalan baginya untuk menantang Starmer dalam bursa calon pemimpin partai. Dalam pidato kemenangannya, Burnham menyebut Partai Buruh memiliki “kesempatan terakhir untuk berubah” — sebuah pernyataan yang langsung dibaca sebagai deklarasi ambisi ke puncak kekuasaan.
Jika Starmer benar-benar mundur tahun ini, Inggris akan mencatatkan perdana menteri ketujuh dalam satu dekade — tingkat pergantian yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern negara itu. Situasi ini mencerminkan krisis kepercayaan yang mendalam terhadap sistem politik Inggris, yang dalam beberapa tahun terakhir diguncang oleh Brexit, pandemi, dan gejolak ekonomi.
Menurut laporan The Guardian, Starmer diperkirakan mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin setelah tekanan luar biasa dari anggota parlemen Buruh. BBC juga melaporkan bahwa “tanda-tanda semakin kuat” Starmer akan menyusun rencana mundur. Tabloid The Sun on Sunday, Sunday Times, dan Sunday Telegraph memberitakan hal serupa, dengan The Telegraph mengklaim pemikiran Starmer kini beralih ke pengamanan “warisan” politiknya.
Bahkan Presiden AS Donald Trump ikut berspekulasi melalui platform Truth Social, menulis bahwa “Keir Starmer akan mengundurkan diri”. Trump, yang awalnya memiliki hubungan baik dengan Starmer sebelum Perang Iran merenggangkan hubungan, menilai Starmer gagal dalam kebijakan imigrasi dan energi. “Saya mendoakan yang terbaik untuknya,” tulis Trump.
Bagi Indonesia, krisis politik di Inggris memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Inggris adalah salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai miliaran dolar per tahun. Ketidakstabilan politik di London dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri dan ekonomi Inggris, termasuk dalam kerangka kerja sama ASEAN-Inggris dan investasi di sektor infrastruktur dan energi hijau. Selain itu, perubahan kepemimpinan yang cepat dapat menggeser prioritas kebijakan luar negeri Inggris, termasuk pendekatan terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim dan keamanan regional.
Starmer, yang berusia 63 tahun dan berlatar belakang pengacara, sebelumnya bersikeras akan melawan upaya pemecatan. Namun, kekalahan telak partainya dalam pemilihan lokal dan regional di Inggris, Skotlandia, dan Wales bulan lalu memperkuat tekanan. Ia nyaris digulingkan pada Maret lalu akibat keputusan kontroversial menunjuk Peter Mandelson, yang dikenal dekat dengan pelanggar seks Jeffrey Epstein, sebagai duta besar untuk Washington.
Jika Burnham berhasil mengambil alih, ia diperkirakan akan mengganti Menteri Keuangan Rachel Reeves, namun mempertahankan Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood. Burnham, yang berasal dari sayap kiri lunak Partai Buruh, belum memberikan rincian kebijakan ekonominya. Namun, analis memperkirakan ia akan mengadopsi pendekatan yang lebih populis dan fokus pada isu-isu domestik seperti layanan publik dan ketimpangan regional.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Burnham mampu mengembalikan stabilitas politik Inggris, atau justru memperpanjang siklus ketidakpastian yang telah menggerogoti kepercayaan publik dan investor? Jawabannya akan sangat menentukan arah kebijakan Inggris dalam beberapa tahun ke depan, termasuk hubungannya dengan Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.



