Malaysia-Bangladesh Sepakat Atasi Krisis Rohingya, Libatkan Myanmar Lewat ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Malaysia dan Bangladesh sepakat bekerja sama menyelesaikan masalah pengungsi Rohingya, termasuk melibatkan Myanmar melalui mekanisme ASEAN.
- Kesepakatan ini diumumkan dalam kunjungan perdana Perdana Menteri Bangladesh Tarique Rahman ke Malaysia sejak menjabat.
- Langkah ini berpotensi mempengaruhi kebijakan Indonesia sebagai sesama anggota ASEAN dalam penanganan pengungsi Rohingya.

Malaysia dan Bangladesh resmi menggandeng tangan untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan pengungsi Rohingya, dengan melibatkan Myanmar melalui jalur ASEAN. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan komitmen ini dalam konferensi pers bersama PM Bangladesh Tarique Rahman di Putrajaya, Senin (22/6).
Anwar menyatakan bahwa kedua negara akan mengoordinasikan upaya melalui kementerian luar negeri masing-masing. "Melalui upaya bersama, kami akan bekerja untuk menyelesaikan penderitaan pengungsi Rohingya di Bangladesh dan juga di sini," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan kepada otoritas Myanmar akan dilakukan lewat mekanisme ASEAN untuk mengurai sebagian akar masalah.
Kunjungan Tarique Rahman ke Malaysia merupakan lawatan luar negeri pertamanya sejak menjabat pada Februari lalu. Anwar menyambut hangat kedatangan "saudara" lamanya itu, mengingat hubungan personal yang telah terjalin puluhan tahun. Malaysia, menurut Anwar, termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Bangladesh dan memberi selamat atas kemenangan pemilu Tarique.
Di luar isu Rohingya, Anwar dan Tarique juga menyuarakan sikap bersama atas situasi Gaza. "Atas kejahatan dan kekejaman yang dilakukan rezim Zionis Israel di Gaza, serta dukungan untuk perdamaian abadi di Teluk dan Iran, kami bersama," tegas Anwar. Pernyataan ini menegaskan posisi kedua negara yang vokal dalam isu Palestina di forum internasional.
Bagi Indonesia, kerja sama Malaysia-Bangladesh ini menjadi sinyal penting. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia kerap menjadi tujuan pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar dan Bangladesh. Langkah diplomasi bilateral ini bisa menjadi preseden bagi pendekatan regional yang lebih terkoordinasi, termasuk kemungkinan keterlibatan Indonesia dalam forum ASEAN untuk membahas akar konflik di Rakhine State.
Anwar memuji keteguhan Tarique dalam memperjuangkan kebebasan dan kemajuan rakyat Bangladesh. "Beliau bertahan dalam kesulitan dan tetap konsisten pada cita-citanya, membela kebebasan dan kemajuan bagi rakyatnya yang sangat dicintainya," kata Anwar. Hubungan personal yang erat ini diharapkan memperkuat kerja sama strategis kedua negara ke depan.
Pertanyaan yang tersisa adalah sejauh mana Myanmar akan merespons pendekatan ASEAN yang dimotori Malaysia dan Bangladesh. Dengan tekanan internasional yang terus meningkat, apakah junta militer Myanmar akan membuka pintu bagi solusi diplomatik, atau justru semakin mengisolasi diri?



