Trump Jadikan Peringatan 250 Tahun AS Panggung Kampanye Pribadi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Trump memanfaatkan perayaan HUT ke-250 AS di National Mall untuk pidato bernada kampanye, menonjolkan pencapaiannya dan menyerang lawan politik.
- Acara yang semula bernuansa patriotik berubah menjadi ajang politik setelah sejumlah musisi mundur karena khawatir acara terpolitisasi.
- Dengan tingkat persetujuan publik yang rendah (37%), Trump berupaya menggalang dukungan menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi membuka rangkaian perayaan 250 tahun kemerdekaan AS dengan sebuah pidato di National Mall, Washington DC, Rabu malam (25/6). Namun, alih-alih bernuansa sakral dan kebangsaan, acara tersebut lebih menyerupai rapat politik raksasa yang berpusat pada figur sang presiden.
Dengan latar pesawat pengebom siluman yang melintas, alunan musik militer, dan lagu "God Bless the USA" dari Lee Greenwood, Trump menyampaikan pidato singkat—kurang dari 30 menit—yang merupakan salah satu yang terpendek dalam karier politiknya. "Tidak ada yang seperti Amerika Serikat, dan bersama-sama kita membuatnya lebih besar, lebih baik, lebih kuat, dan lebih luar biasa dari sebelumnya," ujarnya di hadapan ribuan pendukung yang memenuhi sebagian National Mall.
Meski berusaha tampak lebih lunak terhadap Partai Demokrat—ia tidak melontarkan kritik pedas seperti biasanya—Trump tetap menyelipkan serangan terhadap pemerintahan sebelumnya. "Impian Amerika hidup kembali. Itu sesuatu yang tak seorang pun kira akan mereka katakan setelah empat tahun terakhir yang tidak kompeten," katanya, merujuk pada era Joe Biden. Ia juga menyebut upayanya merenovasi Reflecting Pool di dekat Lincoln Memorial dan membangun ballroom di Gedung Putih sebagai bukti kesuksesannya.
Namun, di balik kemeriahan, perayaan ini tidak lepas dari kontroversi. Menteri Perhubungan Sean Duffy, yang turut berbicara, mengecam para musisi yang mundur dan menyebut Trump sebagai "presiden terhebat sejak George Washington." Sementara itu, anggota DPR dari Partai Demokrat, Jared Huffman, menuduh kelompok afiliasi Trump yang mengorganisir acara ini menjual akses kepada kepentingan khusus dan menulis ulang sejarah pendirian bangsa sesuai keinginan presiden. "Seharusnya ini tentang menyatukan kita," kata Huffman. "Ia mencoba menjadikan perayaan 250 tahun ini semua tentang dirinya."
Bagi Indonesia, dinamika politik AS ini relevan mengingat hubungan bilateral yang erat, terutama di bidang perdagangan dan investasi. Ketidakstabilan politik di AS dapat berdampak pada kebijakan luar negeri dan ekonomi global, termasuk arus modal dan harga komoditas. Selain itu, pendekatan Trump yang cenderung transaksional dalam kebijakan luar negeri—seperti yang terlihat dalam penanganan perang Iran dan hubungan dengan Venezuela—perlu dicermati oleh para pembuat kebijakan di Jakarta.
Di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi dan defisit anggaran yang membengkak, Trump mengandalkan momentum perayaan untuk memperbaiki citranya menjelang pemilu paruh waktu November. Namun, analis menilai bahwa pidato-pidato semacam ini hanya akan efektif jika diimbangi dengan perbaikan ekonomi nyata. "Investasi dalam kecerdasan buatan mendorong pertumbuhan, tetapi juga memicu kekhawatiran hilangnya pekerjaan kelas menengah," demikian diungkapkan dalam laporan AP. Dengan hanya 33% warga AS yang menyetujui kepemimpinan ekonominya, jalan Trump masih panjang untuk meyakinkan kembali para pemilih.



