Rano Karno Menangis di HUT Jakarta ke-499: Harapan Menuju 5 Abad
Baca dalam 60 detik
- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan pidato di rapat paripurna DPRD, menekankan visi Jakarta yang manusiawi dan berkelanjutan.
- Menjelang usia 500 tahun pada 2027, Rano mendorong transformasi Jakarta menjadi kota global tanpa melupakan akar sejarah dan nilai kemanusiaan.
- Pidato emosional ini menyoroti bahwa kemajuan sejati bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada kesejahteraan dan mimpi setiap warganya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno meneteskan air mata saat membacakan pidato dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta memperingati HUT ke-499 Jakarta, Senin (22/6). Tangisnya pecah ketika ia mengungkapkan harapan bagi ibu kota menjelang usia 500 tahun atau lima abad pada 2027.
Dalam pidatonya, Rano menekankan bahwa momentum menuju lima abad Jakarta harus menjadi titik tolak untuk mempersiapkan masa depan kota secara lebih serius. Ia tidak hanya berbicara tentang kemajuan fisik dan daya saing, tetapi juga tentang keberlanjutan dan kemanusiaan. “Masa depan yang menghadirkan rasa aman, kesempatan, keadilan, dan harapan bagi seluruh warga,” ujarnya.
Rano menggarisbawahi pentingnya kemajuan Jakarta tanpa meninggalkan sejarahnya. Ia membayangkan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya, yang percaya diri menatap dunia, menjadi pusat pertumbuhan, inovasi, dan peradaban. Namun, ia menegaskan bahwa kota ini tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. “Kota yang modern tapi tetap mengenal jati dirinya, kota yang tinggi gedung-gedungnya tapi juga tinggi kepeduliannya,” kata Rano.
Lebih lanjut, Wakil Gubernur menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat harus membawa manfaat luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia ingin menghadirkan Jakarta yang berdaya saing tanpa kehilangan rasa kemanusiaan, dan inklusif tanpa membedakan latar belakang. “Sebab ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya terletak pada gemerlap lampu dan megahnya bangunan, melainkan sejauh mana setiap anak dapat bermimpi, setiap keluarga dapat hidup layak, setiap lansia merasa dihormati, dan setiap warga merasa memiliki tempat di rumah besar bernama Jakarta,” ucapnya.
Pidato emosional ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Jakarta: bagaimana menyeimbangkan modernitas dengan identitas budaya, serta pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial. Menjelang usia 500 tahun, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jakarta mampu mewujudkan visi tersebut di tengah tekanan urbanisasi dan kesenjangan yang masih menganga.



