Nilai Pasar Lima Bank Terbesar Nigeria Anjlok 14% dalam Sepekan, Rugi Rp 280 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Kapitalisasi pasar lima bank papan atas Nigeria terkoreksi 14% menjadi N14,17 triliun (US$10,3 miliar) akibat aksi jual besar-besaran di bursa.
- Bank-bank tier-1 kehilangan N2,22 triliun dalam lima hari perdagangan, dengan First Holdco dan GTCO menjadi yang paling terpukul.
- Koreksi ini dipicu oleh profit taking setelah reli panjang dan kekhawatiran terhadap risiko konsentrasi kepemilikan di First Holdco.

Lima bank terbesar Nigeria kehilangan hampir seperempat nilai pasar mereka dalam sepekan terakhir, mencatatkan koreksi terdalam sejak awal tahun. Total kapitalisasi pasar mereka menyusut 14% menjadi N14,171 triliun (setara US$10,34 miliar) pada penutupan perdagangan Jumat lalu, menurut data Nigerian Exchange (NGX).
Koreksi ini terjadi di tengah aksi jual massal yang melanda seluruh bursa Nigeria, yang mengakibatkan kerugian agregat N5,64 triliun. Indeks perbankan, yang menjadi barometer sektor keuangan, ambles 10,49% sepanjang pekan. Para pialang saham menyebut fenomena ini sebagai koreksi pasar wajar setelah reli liar sebelumnya, namun mereka masih menunggu pergerakan pekan depan untuk memastikan apakah tekanan jual akan berlanjut.
Lima bank yang tercatat sebagai tier-1โGTCO, Zenith Bank, First Holdco, UBA, dan Access Holdingsโkehilangan total N2,221 triliun. GTCO menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 15% dalam sepekan, diikuti First Holdco yang ambles 20,28%. Sementara itu, Access Holdings dan UBA mengalami pelemahan lebih moderat, masing-masing 7,69% dan 8,13%, yang oleh analis dianggap sebagai penyesuaian harga saham yang sebelumnya overbought.
Yang menarik perhatian adalah kasus First Holdco. Sahamnya tertekan setelah ketua perusahaan, Femi Otedola, meningkatkan kepemilikannya menjadi 20% dalam upaya memenuhi persyaratan kecukupan modal regulator. Alih-alih menenangkan pasar, langkah ini justru memicu kekhawatiran akan risiko konsentrasi (key man risk). Harga saham First Holdco kini diperdagangkan pada diskon 33% dari level tertinggi 52 minggu, mencerminkan volatilitas tinggi di tengah volume perdagangan yang besar. Para pialang menilai bahwa hanya Otedola sendiri yang terus membeli, sementara investor lain justru melepas.
Di sisi lain, Zenith Bank dan GTCO masih menjadi favorit analis. Sejumlah ekuitas analis mempertahankan rekomendasi beli untuk Zenith Bank, dengan proyeksi kenaikan signifikan meskipun prospek laba mulai mengetat. Saham Zenith Bank sempat mencapai puncak N136,90 per saham sebelum koreksi, didorong sentimen positif menjelang rilis laba kuartal II. Namun, aksi ambil untung oleh investor asing dan lokal akhirnya menekan harga. GTCO, meskipun turun 15%, masih diperdagangkan pada diskon 13% dari level tertinggi 52 minggu, menunjukkan potensi upside yang masih menarik.
Bagi pelaku pasar Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko koreksi setelah reli berkepanjangan di sektor perbankan. Di dalam negeri, indeks perbankan juga sempat mencatatkan kenaikan signifikan pada awal tahun, namun tekanan jual asing mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Koreksi di Nigeria, yang dipicu oleh faktor domestik seperti keputusan regulator dan aksi korporasi, bisa menjadi sinyal bagi investor Indonesia untuk lebih selektif dalam memilih saham bank, terutama yang memiliki risiko konsentrasi kepemilikan tinggi.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis laporan keuangan kuartal II dan kebijakan moneter Bank Sentral Nigeria. Jika tekanan jual berlanjut, bukan tidak mungkin koreksi ini akan meluas ke sektor lain. Pertanyaan besarnya: apakah ini sekadar koreksi sehat atau awal dari tren bearish yang lebih panjang?



