KOSPI Bangkit dari Keterpurukan, Pasar Asia Mulai Pulih di Tengah Keraguan AI
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI melonjak 3,26% setelah ambruk 10% sehari sebelumnya, dipimpin oleh kenaikan saham Samsung dan SK Hynix.
- Kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi saham teknologi dan kejelasan imbal hasil investasi AI menjadi pemicu volatilitas pasar.
- Pasar Asia masih terbelah: bursa Hong Kong dan Shanghai menguat, sementara Tokyo dan Jakarta justru melanjutkan pelemahan.

Bursa Korea Selatan memantul tajam pada Rabu (24/6) setelah sehari sebelumnya ambruk hingga 10 persen, sementara pasar Asia lainnya berjuang pulih dari aksi jual massal yang dipicu oleh keraguan terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI).
Indeks KOSPI ditutup melonjak 267,18 poin atau 3,26 persen ke level 8.471,02, setelah sempat naik hingga 4,55 persen selama sesi perdagangan. Penguatan ini dipimpin oleh Samsung Electronics yang tercatat naik 9,84 persen menyusul kabar rencana pembelian kembali saham senilai 90 triliun won (sekitar 58,4 miliar dolar AS). Saham SK Hynix, produsen chip memori lainnya, ikut menguat 0,98 persen.
Analis menilai aksi jual pada Selasa lalu tidak dipicu oleh satu katalis spesifik, melainkan akumulasi kekhawatiran di lantai bursa mengenai valuasi saham teknologi yang sudah terlalu tinggi. Saham-saham tersebut selama ini menjadi motor penggerak reli pasar ke rekor tertinggi di berbagai negara. “Perdebatan tahap berikutnya tentang investasi AI bukan lagi apakah temanya nyata, tetapi apakah skala investasi pada akhirnya akan menghasilkan imbal hasil yang diharapkan investor,” ujar Christoffer Enemaerke dari RBC BlueBay Asset Management.
Pasar Seoul, Tokyo, dan Taipei—tempat banyak produsen perangkat keras dunia tercatat—menjadi garda depan reli tahun ini, menggantikan Wall Street yang lebih didominasi perusahaan perangkat lunak hilir. Namun, kekhawatiran akan kenaikan suku bunga AS setelah sikap hawkish Federal Reserve pekan lalu turut membayangi sentimen.
Stephen Innes dari SPI Asset Management menulis, “Selasa bukan sekadar hari buruk bagi ekuitas Korea. Itu adalah pengingat bahwa salah satu pasar AI paling sukses di dunia juga menjadi salah satu ekspresi over-leverage yang paling padat.” Meski demikian, ia menambahkan bahwa kasus fundamental tetap utuh, setidaknya untuk saat ini. “Memori masih menjadi salah satu hambatan kritis dalam pembangunan AI global, dan baik SK Hynix maupun Samsung tidak tiba-tiba kehilangan kepentingan strategisnya hanya karena satu sesi yang keras.”
Pemulihan di Seoul diikuti oleh bursa Hong Kong, Shanghai, Sydney, Singapura, Mumbai, dan Bangkok. Namun, Tokyo, Taipei, Manila, Jakarta, dan Wellington justru kembali tertekan. Jakarta melemah 2 persen setelah MSCI menunda keputusan penurunan peringkat pasar Indonesia karena kekhawatiran tentang “opasitas struktur kepemilikan saham”.
Di sisi lain, harga minyak mentah terus turun seiring optimisme tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Iran. Dua platform pelacak maritim melaporkan lalu lintas melalui Selat Hormuz pada Senin mencapai level tertinggi sejak perang dimulai. Namun, perselisihan mengenai jalur vital tersebut, inspeksi nuklir, dan rudal mulai menunjukkan keretakan awal dalam negosiasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak akan menerima pungutan atau biaya Iran di selat internasional itu. Sementara itu, Iran dan Oman dalam pernyataan bersama menyatakan akan mempelajari administrasi jalur perdagangan dan biaya yang akan dikenakan, dengan tetap menegaskan kedaulatan mereka.
Pelaku pasar kini menanti rilis laba dari Micron Technology, produsen chip AS, yang diperkirakan akan memberikan gambaran segar tentang permintaan di sektor semikonduktor dan apakah reli AI masih memiliki daya tahan. Dengan ketidakpastian yang masih membayangi, pertanyaan besarnya adalah: akankah pemulihan ini berkelanjutan, atau hanya sekadar technical rebound sebelum tekanan jual kembali melanda?



