First Holdco Anjlok 20%: Aksi Jual Massal Dipicu Konsentrasi Saham dan Target Modal Baru
Baca dalam 60 detik
- Harga saham First Holdco merosot 20% dalam sepekan, dari N69 ke N55, seiring aksi jual investor yang khawatir terhadap rencana rights issue dan konsentrasi kepemilikan.
- Kapitalisasi pasar emiten finansial ini tergerus N622,35 miliar menjadi N2,44 triliun, dengan harga saat ini 33% di bawah level tertinggi 52 minggu.
- Langkah Femi Otedola menambah kepemilikan di atas 20% justru memicu persepsi risiko kunci, sementara perusahaan masih harus mengumpulkan N221 miliar dari program private placement N350 miliar.

First Holdco Plc kehilangan lebih dari seperlima nilai pasarnya dalam sepekan terakhir, setelah gelombang aksi jual besar-besaran mengirim harga sahamnya ke level N55 dari posisi N69 pada awal pekan. Penurunan tajam ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap struktur kepemilikan yang semakin terkonsentrasi serta tekanan untuk memenuhi ketentuan permodalan regulator.
Kapitalisasi pasar emiten yang menaungi First Bank of Nigeria itu ambrol sebesar N622,351 miliar secara mingguan, menutup perdagangan di angka N2,444 triliun. Posisi tersebut berada jauh di bawah valuasi tertingginya dalam 52 pekan terakhir di Bursa Saham Nigeria (NGX). Bahkan, harga saham First Holdco saat ini diperdagangkan sekitar 33% di bawah rekor tertinggi satu tahunnya.
Lonjakan volume transaksi mengindikasikan investor institusional dan ritel berusaha keluar sebelum pelaksanaan rights issue yang dipicu kepatuhan terhadap aturan kecukupan modal. Langkah Femi Otedola, ketua dewan komisaris yang juga pengusaha ternama, meningkatkan kepemilikannya hingga di atas 20% justru dinilai memperbesar risiko ketergantungan pada figur kunci (key man risk). Menurut analis pasar, konsentrasi saham pada satu pemegang saham utama membuat saham First Holdco kurang menarik bagi investor besar yang menginginkan likuiditas dan diversifikasi jangka panjang.
Di tengah tekanan jual, First Holdco sebenarnya tengah menjalankan program private placement senilai total N350 miliar. Perusahaan baru saja merampungkan tahap kedua sebesar N45 miliar, yang dananya akan disuntikkan ke First Bank of Nigeria Limited sebagai bagian dari rencana restorasi modal dan penguatan neraca. Manajemen menyatakan bahwa selain memenuhi ketentuan regulasi, injeksi modal ini akan memperkuat kapasitas bank dalam menyalurkan kredit berkualitas, memperluas layanan perbankan digital dan transaksional, serta mempercepat pertumbuhan di segmen korporasi, komersial, ritel, dan lintas batas.
Meski demikian, keberhasilan tahap kedua itu belum mampu membendung sentimen negatif. Sejumlah analis menilai bahwa prospek pendapatan yang lemah dan absennya dividen menjadi faktor tambahan yang membuat pemegang saham tidak nyaman. βTanpa perbaikan fundamental yang jelas, aksi jual bisa berlanjut hingga harga menemukan titik keseimbangan baru,β ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Bagi investor Indonesia, kasus First Holdco menjadi pengingat akan risiko konsentrasi kepemilikan di sektor perbankan, terutama saat regulator menekan penambahan modal. Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tengah mendorong bank-bank untuk memperkuat permodalan melalui penawaran umum terbatas atau aksi korporasi lain. Jika sentimen serupa terjadi di pasar Indonesia, emiten dengan struktur kepemilikan terpusat bisa mengalami tekanan harga jangka pendek serupa.
Ke depan, First Holdco masih harus mengumpulkan sisa N221 miliar untuk memenuhi target peningkatan modal disetor menjadi N1 triliun. Pertanyaan besarnya: akankah pasar merespons positif tahap berikutnya, atau justru semakin menjauh karena kekhawatiran dilusi saham? Jawabannya akan sangat menentukan arah harga saham dalam beberapa pekan mendatang.



