Perundingan AS-Iran di Swiss Buntu: Delegasi Teheran Walkout Usai Ancaman Trump
Baca dalam 60 detik
- Delegasi Iran meninggalkan meja perundingan di Swiss setelah Presiden Trump mengancam akan menyerang Iran jika tidak menghentikan dukungan kepada Hizbullah di Lebanon.
- Pembahasan nuklir belum tersentuh di putaran pertama; fokus justru pada implementasi nota kesepahaman dan situasi Lebanon yang kembali memanas.
- Kegagalan negosiasi berpotensi memicu penutupan kembali Selat Hormuz, mengancam pasokan energi global dan memperburuk inflasi—termasuk dampak bagi harga minyak di Indonesia.

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Burgenstock, Swiss, memasuki babak baru yang penuh ketegangan setelah delegasi Teheran secara dramatis meninggalkan ruang negosiasi pada Minggu (22/6) malam. Langkah itu dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang kembali mengancam akan melancarkan serangan militer jika Iran tidak segera menghentikan dukungannya terhadap kelompok proksi di Lebanon.
Sumber diplomatik AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pembicaraan diperkirakan akan berlangsung hingga larut malam, bahkan mungkin tanpa jeda. Namun, jalan menuju kesepakatan permanen masih terhalang oleh perbedaan pandangan yang tajam mengenai sejumlah isu krusial, terutama gencatan senjata di Lebanon dan masa depan program nuklir Iran. “Kami sedang dalam diskusi yang sangat intensif mengenai seluruh elemen kesepakatan nuklir,” ujar seorang diplomat AS di lokasi, seraya menambahkan bahwa klarifikasi juga diberikan terkait posisi Iran di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin memuncak ketika Trump, melalui akun media sosialnya, menuntut Iran segera menghentikan “para proksi bayaran tinggi” di Lebanon. Iran langsung bereaksi keras. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya siap merespons dengan cara yang berbeda. “Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka,” ujar Ghalibaf, seperti dikutip kantor berita IRNA.
Di tengah kebuntuan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya akan tetap berada di Lebanon selatan “selama diperlukan” dan berjanji tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali hak negaranya untuk memperkaya uranium, meskipun berulang kali membantah berniat membuat bom atom. “Kami bahkan bisa menyatakannya secara tertulis bahwa kami tidak punya niat membangun bom,” kata Pezeshkian.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini membawa risiko langsung. Penutupan Selat Hormuz—yang pernah terjadi sebelumnya—dapat memicu lonjakan harga minyak mentah global, mengerek harga BBM di dalam negeri, dan memperburuk tekanan inflasi yang sudah dirasakan masyarakat. “Jika perundingan gagal, perang akan kembali, mungkin tidak dalam skala penuh, tetapi Selat Hormuz akan ditutup lagi. Itu akan menjadi bencana bagi ekonomi global, pasar energi, dan pengiriman komoditas seperti petrokimia dan pupuk,” ujar Sean Yom, profesor ilmu politik dari Temple University, kepada CNA.
Namun, Yom menilai langkah Iran meninggalkan meja perundingan adalah kalkulasi politik yang cermat. Menurutnya, rezim Teheran memahami bahwa Trump menghadapi tekanan domestik yang besar—termasuk inflasi dan pemilu paruh waktu November mendatang—sehingga kemungkinan besar akan melunak dan menekan Israel untuk meredakan konflik di Lebanon. “Iran mungkin akan mendapatkan konsesi lebih lanjut selama periode 60 hari negosiasi ke depan,” tambahnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah AS dan Iran mampu mengatasi saling ancaman dan duduk kembali membahas masa depan kawasan? Atau justru dunia akan menyaksikan babak baru konflik terbuka yang kembali mengguncang pasar energi dan stabilitas geopolitik?



