Polisi Filipina Siaga Penuh Hadapi Topan Mekkhala: Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Kepolisian Filipina mengaktifkan protokol tanggap bencana menyusul pergerakan Topan Mekkhala yang diperkirakan memperkuat muson barat daya.
- Meski tidak diprediksi mendarat, topan dengan kecepatan 140 km/jam ini berpotensi memicu hujan deras, banjir bandang, dan tanah longsor di Luzon Utara.
- Masyarakat diimbau mematuhi arahan evakuasi dini, sementara aparat setempat terus berkoordinasi dengan badan meteorologi untuk pemantauan 24 jam.

Kepolisian Nasional Filipina (PNP) meningkatkan kewaspadaan maksimal menyusul ancaman Topan Mekkhala—yang secara lokal disebut Francisco—yang kini bergerak mendekati perairan timur Luzon. Dalam pernyataan resmi, Kepala PNP Jenderal Jose Melencio Nartatez Jr. menegaskan bahwa seluruh unit di lapangan telah menjalankan protokol respons bencana dan berkoordinasi dengan otoritas lokal untuk memastikan keselamatan warga.
Berdasarkan data terakhir dari Badan Meteorologi Filipina (Pagasa), pusat topan terpantau sekitar 715 kilometer di timur Kota Tuguegarao, Cagayan, pada pukul 04.00 waktu setempat. Mekkhala bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 30 kilometer per jam, membawa angin maksimum 140 km/jam dan hembusan hingga 170 km/jam. Meskipun lintasannya diprediksi tetap berada di Laut Filipina dan tidak akan mencapai daratan, Pagasa tidak menutup kemungkinan topan ini mendekati ujung utara Luzon.
Yang menjadi perhatian utama aparat keamanan adalah potensi topan memperkuat muson barat daya, yang dapat memicu hujan lebat mulai Senin, 22 Juni. “Hujan deras kerap menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor yang langsung mengancam komunitas di dataran rendah,” ujar Nartatez, mengutip peringatan Pagasa. Wilayah pesisir dan lereng bukit di Luzon Utara dinilai paling rentan terhadap bencana hidrometeorologi ini.
PNP telah menginstruksikan jajarannya untuk bersiaga penuh, termasuk menyiapkan personel dan peralatan evakuasi. “Kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan evakuasi preventif dan operasi lain demi keselamatan warga,” tambah Nartatez. Ia juga mengimbau masyarakat agar hanya mengikuti arahan resmi dari otoritas setempat dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi.
Bagi Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi saat musim barat daya, di mana siklon tropis di Filipina utara dapat memengaruhi pola cuaca di wilayah barat Indonesia, termasuk peningkatan curah hujan di Sumatera dan Kalimantan. Meski dampak langsung Mekkhala diperkirakan tidak mencapai Indonesia, perubahan pola angin muson akibat topan ini patut diwaspadai oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai bagian dari sistem peringatan dini regional.
Ke depan, Pagasa akan terus memperbarui lintasan dan intensitas topan setiap enam jam. Pertanyaan kritis yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan infrastruktur mitigasi bencana di Filipina—dan negara tetangga—dalam menghadapi potensi banjir dan longsor yang dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.



