Kunjungan Kaisar Naruhito ke Belgia: Jejak Diplomasi Buku dan Semikonduktor
Baca dalam 60 detik
- Kaisar Jepang Naruhito dan Raja Philippe Belgia mengunjungi KU Leuven, meninjau koleksi buku sumbangan Jepang yang telah berusia seabad.
- Kunjungan ini menegaskan hubungan historis kedua negara, di mana perpustakaan universitas yang hancur akibat Perang Dunia I dibangun kembali dengan dukungan Jepang pada 1920-an.
- Di hari yang sama, Kaisar juga mengunjungi pusat riset semikonduktor imec, menyoroti kolaborasi teknologi tinggi Jepang-Belgia.

Kaisar Jepang Naruhito, dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Belgia, menyempatkan diri menelusuri lorong sejarah di KU Leuven, universitas tertua di Eropa yang menyimpan ribuan buku sumbangan dari Jepang. Bersama Raja Philippe, ia menyaksikan langsung warisan diplomasi budaya yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Perpustakaan universitas tersebut, yang luluh lantak akibat Perang Dunia I, dibangun kembali berkat inisiatif Kaisar Hirohitoโkakek Naruhitoโyang saat itu masih menjadi putra mahkota. Kunjungan Hirohito pada 1921 ke reruntuhan perpustakaan menjadi titik awal penggalangan dana dari Jepang untuk rekonstruksi. Kini, jejak itu tampak nyata pada koleksi langka seperti Nihon Shoki (Kronik Jepang) dan Eiga Monogatari (Kisah Kemakmuran) yang masih menyisakan cap Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran dari seratus tahun silam.
Dalam interaksi dengan mahasiswa Belgia yang mempelajari Jepang, Kaisar Naruhito bertanya dalam bahasa Jepang tentang apa yang memicu minat mereka terhadap negeri Sakura. Momen ini menunjukkan pendekatan personal yang menjadi ciri khas diplomasi kebudayaan Jepang. Di luar kampus, ia dan Raja Philippe menyapa warga yang menunggu di bawah terik musim panas, sebuah gestur yang memperkuat citra monarki yang dekat dengan rakyat.
Sebelumnya, Kaisar Naruhito mengunjungi imec, pusat riset nanoteknologi dan semikonduktor kelas dunia yang berbasis di Leuven. Di sana, ia berdialog dengan peneliti Jepang yang bekerja sama dengan ilmuwan Belgia. Kunjungan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi riset di tengah persaingan global industri chip, yang juga berdampak pada rantai pasok elektronik Indonesia.
Bagi Indonesia, kunjungan ini relevan dalam dua hal. Pertama, diplomasi buku dan pendidikan yang dilakukan Jepang bisa menjadi model bagi penguatan hubungan budaya Indonesia dengan negara lain. Kedua, kerja sama riset semikonduktor di imec mengingatkan bahwa Indonesia perlu mempercepat investasi di bidang teknologi tinggi agar tidak tertinggal dalam revolusi industri 4.0. Jepang, melalui kunjungan kekaisaran, secara konsisten mempromosikan soft power dan inovasi sebagai pilar diplomasi.
Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako dijadwalkan mengakhiri lawatan dua minggu ke Belanda dan Belgia pada Kamis. Sebelum pulang ke Jepang, mereka akan bertemu dengan warga Belgia yang memiliki ikatan dengan Jepang di kediaman duta besar. Ini adalah kunjungan luar negeri resmi keempat sejak Naruhito naik takhta pada 2019, menegaskan komitmen keluarga kekaisaran dalam mempererat hubungan internasional.
Ke depannya, apakah Indonesia bisa meniru pendekatan Jepang yang memadukan warisan sejarah dengan investasi teknologi dalam diplomasinya? Atau justru sebaliknya, Indonesia akan lebih fokus pada kerja sama ekonomi langsung tanpa membangun fondasi budaya yang kuat? Pertanyaan ini layak direnungkan di tengah upaya Indonesia memperluas pengaruh globalnya.



