RM1,76 Miliar Ganja Digagalkan: Dua Saudara di Terengganu Jadi Kurir Internasional
Baca dalam 60 detik
- Polisi Malaysia menangkap dua kakak-beradik yang menyimpan 22 kg ganja kualitas premium di rumah mereka di Kampung Duyong Besar.
- Narkotika senilai RM1,76 miliar itu diduga berasal dari sindikat internasional yang menyelundupkannya melalui jalur laut.
- Tersangka berusia 50 tahun memiliki 13 catatan kriminal narkoba sebelumnya, sementara adiknya tidak punya rekam jejak.

Kepolisian Negara Bagian Terengganu, Malaysia, menggagalkan peredaran narkotika jenis ganja senilai RM1,76 miliar (sekitar Rp6,2 triliun) setelah menangkap dua kakak-beradik yang menjadikan rumah mereka di Kampung Duyong Besar sebagai gudang penyimpanan. Penangkapan ini merupakan hasil Operasi Tapis Khas yang digelar pada 14 Juni lalu, sekaligus mengungkap jaringan sindikat internasional yang menyelundupkan barang haram melalui jalur laut.
Kepala Polisi Terengganu, Deputi Komisioner Datuk Mohd Khairi Khairuddin, mengungkapkan bahwa kedua tersangka berusia 39 dan 50 tahun itu diamankan bersama sekitar 22 kilogram kuncup ganja siap edar. “Pasokan ini diperkirakan cukup untuk 44.000 pecandu dan ditujukan untuk pasar internasional,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilansir Bernama. Nilai barang bukti yang disita mencakup tidak hanya ganja, tetapi juga aset senilai RM149.000 berupa beberapa kendaraan dan uang tunai.
Fakta menarik, kedua tersangka dinyatakan negatif narkoba berdasarkan tes urine. Namun, kakak berusia 50 tahun memiliki 13 catatan pelanggaran narkoba sebelumnya, sementara adiknya tidak memiliki catatan kriminal. Polisi menduga rumah di Kampung Duyong Besar itu digunakan sebagai tempat transit sebelum didistribusikan ke negara lain. Modus penyelundupan melalui laut menjadi perhatian serius aparat, mengingat perairan Malaysia sering dijadikan jalur masuk narkotika dari negara tetangga.
Kasus ini menjadi pengingat betapa masifnya peredaran narkotika di kawasan Asia Tenggara. Malaysia, yang berbatasan laut dengan Indonesia, Thailand, dan Vietnam, kerap dijadikan titik transit sindikat internasional. Bagi Indonesia, modus serupa juga lazim terjadi di perairan Selat Malaka dan Laut Natuna. Kepolisian Indonesia perlu mewaspadai potensi aliran narkoba dari jaringan yang sama, mengingat ganja jenis premium sering diselundupkan ke Indonesia melalui jalur laut yang sulit diawasi.
Menurut analis kriminologi Universitas Malaya, Dr. Ahmad Faiz, penggunaan rumah pribadi sebagai gudang penyimpanan menunjukkan tingkat kepercayaan sindikat terhadap kurir lokal. “Mereka tidak ragu menempatkan barang bernilai miliaran di rumah warga biasa, yang menandakan jaringan ini sudah mapan dan memiliki sistem logistik yang rapi,” ujarnya. Ia menambahkan, keterlibatan kakak-beradik dengan latar belakang berbeda—satu residivis, satu lagi bersih—menunjukkan pola rekrutmen yang memanfaatkan ikatan keluarga untuk mengurangi risiko kebocoran informasi.
Ke depan, polisi masih memburu jaringan pemasok utama yang diduga berbasis di luar negeri. Pertanyaan besarnya: apakah penangkapan ini akan memutus rantai pasok, atau hanya menangkap pemain kecil sementara bos besar masih bebas? Dengan nilai transaksi yang mencapai miliaran rupiah, tekanan terhadap aparat penegak hukum di kawasan untuk memperkuat patroli laut dan intelijen semakin mendesak.



