Gelombang Penipuan Incar Penggemar K-Pop Asing: Laporan Melonjak Empat Kali Lipat
Baca dalam 60 detik
- Laporan penipuan terhadap warga negara asing di Korea Selatan melonjak dari 5.307 kasus pada 2023 menjadi 19.907 kasus pada 2025, didorong oleh maraknya transaksi tiket konser dan merchandise K-Pop.
- Modus operandi melibatkan perantara lokal yang tidak bertanggung jawab, di mana korban mentransfer uang untuk pembelian barang namun pelaku menghilang setelah dana diterima.
- Fenomena ini berpotensi menggerus daya tarik Korea Selatan sebagai destinasi budaya, terutama di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara.

Laporan penipuan yang melibatkan warga negara asing di Korea Selatan mengalami lonjakan drastis dalam tiga tahun terakhir, dengan jumlah kasus hampir empat kali lipat dari 5.307 pada 2023 menjadi 19.907 pada 2025. Data Kepolisian Nasional Korea Selatan yang dirilis pada 21 Juni lalu mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus terkait dengan transaksi budaya pop Korea, termasuk pembelian tiket konser dan merchandise K-Pop.
Fenomena ini mencuat seiring dengan meningkatnya jumlah penggemar asing yang datang ke Korea Selatan untuk menikmati konser, membeli barang resmi, atau sekadar merasakan atmosfer budaya K-Pop secara langsung. Namun, ketidaktahuan akan sistem pembelian daring lokal dan hambatan bahasa membuat banyak wisatawan bergantung pada jasa perantara. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Modus yang paling umum adalah korban mentransfer sejumlah uang kepada individu di Korea Selatan yang mengaku bisa membelikan tiket konser atau merchandise resmi. Setelah dana diterima, pelaku langsung memutus kontak dan menghilang. Kasus serupa terlihat jelas saat konser BTS di Busan pada 12-13 Juni lalu, di mana polisi melaporkan lima dari tujuh kejahatan yang melibatkan warga asing di lokasi adalah kasus penipuan.
Kim Jun-hwan, anggota Partai Demokrat Korea yang berkuasa, menekankan perlunya langkah perlindungan yang lebih kuat bagi wisatawan asing. โSemakin banyak warga asing yang datang ke Korea untuk merasakan budaya Korea, maka diperlukan tindakan yang lebih tegas agar mereka tidak menjadi korban kejahatan,โ ujarnya. Ia mendorong koordinasi antarlembaga pemerintah terkait untuk menciptakan sistem perlindungan yang lebih efektif.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital dan kewaspadaan saat bertransaksi di luar negeri. Mengingat antusiasme penggemar K-Pop di Indonesia sangat tinggi, tidak sedikit yang tergiur membeli tiket konser atau merchandise melalui calo atau perantara daring. Kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia, di mana puluhan penggemar K-Pop menjadi korban penipuan tiket konser dengan kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Ke depan, Korea Selatan perlu memperkuat sistem pengawasan transaksi daring dan memberikan edukasi kepada wisatawan asing tentang cara bertransaksi yang aman. Jika tidak, reputasi Korea sebagai destinasi budaya global bisa tercoreng, dan gelombang kunjungan wisatawan yang terus meningkat justru akan diiringi oleh meningkatnya angka kriminalitas. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah yang diambil cukup cepat untuk mengimbangi laju popularitas K-Pop yang terus mendunia?



