Rupiah Loyo dan Visa Ketat: Mimpi Kuliah di Luar Negeri Kian Mahal bagi Mahasiswa India
Baca dalam 60 detik
- Pelemahan rupee India hingga 47% terhadap mata uang negara tujuan sejak 2019 membuat biaya kuliah di luar negeri melonjak drastis.
- Pendaftaran mahasiswa India ke universitas di Inggris dan AS turun 20% dalam dua tahun terakhir, dipicu visa yang lebih ketat dan prospek kerja suram.
- Negara seperti Jerman, Italia, dan Irlandia mulai dilirik sebagai alternatif karena biaya lebih rendah dan jalur pasca-studi yang lebih ramah.

Pragati Priya, 29 tahun, akhirnya memutuskan mengambil program master di Roma pada September mendatang setelah bertahun-tahun merencanakan. Namun, keputusan itu kini dihantui kekhawatiran finansial akibat nilai tukar rupee India yang terus merosot terhadap euro dan mata uang utama lainnya.
Lebih dari 1,2 juta mahasiswa India tercatat menempuh pendidikan tinggi di luar negeri pada 2025, menjadikan India sebagai negara pengirim mahasiswa terbesar di dunia, menggeser China. Namun, kombinasi pelemahan mata uang, kebijakan visa yang semakin ketat, dan pasar kerja yang lesu di Amerika Serikat serta Eropa mulai mengubah peta pergerakan mahasiswa global.
Menurut Sushil Sukhwani, pendiri Edwise International, pendaftaran mahasiswa India ke Inggris dan AS telah merosot 20% dalam dua tahun terakhir. Ia memperkirakan penurunan akan berlanjut 10β15% lagi. Di Inggris, 76% universitas melaporkan penurunan jumlah mahasiswa India pada Januari 2026, sementara di AS angka itu turun hampir 7% dalam periode Februari 2025 hingga Februari 2026.
Pelemahan rupee menjadi pukulan ganda. Bagi mahasiswa yang sudah berada di luar negeri, sebagian biaya kuliah telah dibayar, tetapi cicilan berikutnya harus direncanakan ulang karena nilai tukar yang terus anjlok. Sukhwani mencatat rupee telah kehilangan lebih dari 10% nilainya terhadap dolar AS dalam setahun terakhir. Sementara itu, lulusan yang berharap mendapat pekerjaan tetap justru banyak yang terjebak di sektor ekonomi gig. "Mereka datang dengan harapan mendapat pekerjaan terampil, tapi akhirnya bekerja paruh waktu. Kini banyak yang lulus dan menjadikan gig economy sebagai pekerjaan penuh waktu," ujar Sudhanshu Kaushik, pendiri North America Association of Indian Students.
Fenomena ini mengubah keberanian keluarga kelas menengah atas India untuk mengambil risiko. Namun, permintaan terhadap pendidikan luar negeri secara keseluruhan masih kuat. Laporan Global Student Flows 2026 memperkirakan penurunan enrolmen ke empat negara tujuan utama hanya 0,5% per tahun hingga 2030. Sebaliknya, minat terhadap destinasi alternatif seperti Jerman, Irlandia, Italia, dan negara Eropa lainnya meningkat. "Biaya kuliah lebih rendah, jalur pasca-studi menguntungkan, dan prospek kerja menjanjikan," kata Mayank Maheshwari, COO University Living.
Pragati Priya memilih Italia karena biaya kuliah setengah dari Inggris dan program hanya satu tahun, sementara AS sama sekali tidak masuk hitungan. Keputusan serupa mulai banyak diikuti mahasiswa India lainnya, menggeser peta persaingan universitas global. Bagi Indonesia, tren ini menjadi pengingat bahwa daya saing pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga kebijakan visa, stabilitas mata uang, dan prospek kerja pasca-studi. Jika Indonesia ingin menarik lebih banyak mahasiswa asing, tiga faktor itu harus menjadi perhatian serius.
Kaushik memperingatkan bahwa AS berisiko kehilangan salah satu instrumen soft power paling efektif: pendidikan tinggi. "Kami mundur dari keuntungan yang telah dibangun selama puluhan tahun," katanya. Pertanyaannya, akankah negara-negara tujuan utama melakukan reformasi kebijakan sebelum gelombang mahasiswa India beralih total ke Eropa?



