Kembali Bertugas, Wasit VAR Shaun Evans Bantah Isyarat Rasis
Baca dalam 60 detik
- Shaun Evans kembali menjadi asisten VAR setelah FIFA menyatakan tidak bersalah atas gestur tangan kontroversial.
- Gestur 'OK' terbalik yang ia lakukan sempat dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih.
- FIFA mengubah tayangan pra-pertandingan untuk menghindari kontroversi serupa di masa depan.

Wasit video asisten (VAR) asal Australia, Shaun Evans, kembali bertugas pada laga Selandia Baru melawan Mesir di Piala Dunia Wanita 2023 setelah FIFA menyatakan dirinya tidak bersalah atas gestur tangan yang dianggap bermuatan rasis. Evans akan mendampingi wasit Mohammed Khamid di Vancouver pada pertandingan Grup G, Minggu (30/7) malam waktu setempat.
Kontroversi bermula saat Evans tertangkap kamera televisi sebelum pertandingan Jerman melawan Curacao. Ia terlihat membentuk jari-jari tangan kanannya menjadi simbol 'OK' terbalik—sebuah gestur yang oleh sebagian kalangan dikaitkan dengan gerakan supremasi kulit putih. Insiden itu langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial dan memicu penyelidikan FIFA.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis FIFA, Evans bersikeras bahwa gerakan itu terjadi secara tidak sadar dan tanpa maksud tertentu. "Itu adalah kejang bawah sadar yang tidak disengaja," ujarnya. "Saya paham bagaimana gestur itu ditafsirkan, dan saya menyesalinya, namun saya tidak sengaja menyampaikan pesan atau keyakinan apa pun."
FIFA mengonfirmasi bahwa penyelidikan telah selesai dan Evans tidak akan menghadapi sanksi. Badan sepak bola dunia itu menyatakan "tidak menemukan bukti pelanggaran Kode Disiplin FIFA". Evans pun menambahkan bahwa rekaman dari ruang VAR membuktikan gerakan serupa terjadi beberapa kali saat ia memegang pena. "Menjadi ofisial di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya, dan saya siap mendukung rekan-rekan untuk sisa turnamen," katanya.
Insiden ini juga mendorong perubahan prosedur siaran pra-pertandingan. Sebelum laga Jerman vs Curacao, kamera biasanya menyorot ruang VAR dan ofisial sempat berpose sejenak. Namun setelah kontroversi, tayangan diubah: ofisial langsung terlihat bekerja di depan monitor tanpa menghadap kamera, meski nama mereka tetap ditampilkan. Langkah ini dinilai sebagai upaya FIFA mengurangi risiko misinterpretasi gestur di masa mendatang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa sensitifnya simbol-simbol nonverbal di era digital. Gestur yang tampak sepele bisa memicu polemik global, terutama di ajang sebesar Piala Dunia. Ke depannya, FIFA mungkin perlu memberikan pelatihan kesadaran budaya bagi para ofisial agar insiden serupa tidak terulang.



