PM Kanada Mark Carney Nyatakan Tak Percaya pada Presiden FIFA Infantino
Baca dalam 60 detik
- Kepercayaan Carney terhadap Infantino runtuh setelah skandal tata kelola penjualan hak komersial Piala Dunia.
- Kritik tajam disampaikan karena Infantino dinilai gagal transparan kepada kolega dan pejabat FIFA.
- Kasus ini berpotensi mempengaruhi citra FIFA di mata negara-negara maju, termasuk dukungan untuk Piala Dunia 2026.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait penanganan proposal penjualan hak komersial Piala Dunia. Pernyataan tegas ini disampaikan di hadapan wartawan di Toronto pada Rabu (5/8), menandai eskalasi kritik dari seorang pemimpin negara terhadap pucuk pimpinan organisasi sepak bola dunia.
Carney menilai tindakan Infantino yang tidak mengungkapkan informasi penting kepada para penasihat terdekat, termasuk chief operating officer dan anggota dewan FIFA, sebagai kegagalan tata kelola yang fatal. "Gagasan bahwa tata kelola yang baik tidak mengharuskan Anda untuk memberi tahu penasihat terdekat, COO, dan kolega dewan tentang hal yang penting... itu fatal, seharusnya fatal, dan Anda kehilangan kepercayaan pada orang itu," ujarnya. Ia menambahkan, "Saya tentu tidak memiliki kepercayaan pada Tuan Infantino setelah ini, mengingat apa yang terjadi dan sifat kejadiannya."
Kritik ini muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap transparansi FIFA, terutama setelah berbagai kontroversi di masa lalu. Langkah Carney menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara dengan pengaruh politik dan ekonomi besar mulai mempertanyakan arah kepemimpinan Infantino. Sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026 bersama Amerika Serikat dan Meksiko, posisi Kanada menjadi krusial dalam menekan FIFA untuk menerapkan standar tata kelola yang lebih ketat.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya transparansi dalam organisasi olahraga, terutama yang melibatkan dana publik dan hak siar. Meski PSSI tengah berbenah di bawah kepemimpinan Erick Thohir, kasus Infantino mengingatkan bahwa tata kelola yang buruk dapat merusak kepercayaan publik dan mitra internasional. Indonesia, yang tengah giat membangun infrastruktur sepak bola, perlu memastikan bahwa setiap keputusan komersial diambil dengan akuntabilitas penuh.
Para pengamat hubungan internasional menilai pernyataan Carney bukan sekadar kritik personal, melainkan cerminan kekhawatiran yang lebih luas di kalangan negara-negara demokrasi terhadap praktik FIFA yang kerap dianggap opak. Langkah ini juga dapat memicu negara lain untuk bersuara, terutama menjelang pemilihan presiden FIFA yang akan datang. Tekanan publik semacam ini berpotensi memaksa FIFA untuk mereformasi struktur internalnya, meski Infantino selama ini dikenal tangguh menghadapi kritik.
Di sisi lain, respons FIFA terhadap pernyataan Carney akan menjadi ujian kredibilitas organisasi. Jika FIFA merespons defensif, citranya di mata publik internasional akan semakin terpuruk. Sebaliknya, jika mereka membuka diri untuk evaluasi, hal itu bisa menjadi langkah positif untuk memulihkan kepercayaan. Pertanyaannya, mampukah Infantino bertahan di tengah badai kritik yang semakin deras, atau justru ini menjadi awal dari pergeseran kekuasaan di tubuh FIFA?



