Figma Tumbuh Pesat, tapi Margin Tergerus: Investasi AI Menggerus Profitabilitas
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan Figma melonjak 48% pada kuartal II, tetapi biaya operasional membengkak hingga hampir dua kali lipat, memicu penurunan margin.
- Saham perusahaan desain berbasis cloud ini merosot 16% di perdagangan setelah jam bursa karena investor khawatir terhadap profitabilitas jangka pendek.
- Figma mempertahankan target pendapatan tahunan yang optimistis, didukung model harga baru berbasis pemakaian AI yang diyakini akan berdampak positif pada 2026-2027.

Saham Figma anjlok 16% dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu (5/8), meskipun perusahaan desain berbasis cloud ini menaikkan proyeksi pendapatan tahunan. Investor justru mencemaskan melonjaknya biaya operasional yang dipicu oleh agresivitas ekspansi di bidang kecerdasan buatan (AI), yang menggerus margin keuntungan.
Figma, yang dikenal lewat platform kolaborasi desain real-time berbasis browser, melaporkan pendapatan kuartal Juni sebesar US$370,1 jutaโmelonjak 48% dibanding periode yang sama tahun lalu dan melampaui estimasi analis yang dihimpun LSEG sebesar US$351,6 juta. Namun, di balik pertumbuhan itu, biaya riset dan pengembangan (R&D) membengkak 101,5%, sementara total beban operasional hampir dua kali lipat menjadi US$426,9 juta. Alhasil, margin operasi yang disesuaikan turun dari 16% menjadi hanya 10% secara kuartalan.
Tekanan biaya ini tidak lepas dari strategi Figma yang mengintegrasikan AI ke seluruh lini produknya. Sejak awal tahun, perusahaan meluncurkan agen AI yang tertanam langsung di kanvas Figma, mampu mengubah tata letak desain dan mengeksekusi alur kerja bertingkat. Langkah ini memang berhasil mendorong adopsi pengguna baru dan meningkatkan konsumsi kredit AI, tetapi juga membutuhkan investasi besar yang belum sepadan dengan pendapatan saat ini.
CFO Figma, Praveer Melwani, menegaskan bahwa pengeluaran tersebut adalah investasi jangka panjang. "Kami melihat momentum pendapatan yang sangat kuat, tetapi kami juga ingin memastikan investasi di sisi produk baru untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan," ujarnya kepada Reuters. Pernyataan ini mencerminkan dilema klasik perusahaan teknologi: mengejar pertumbuhan agresif atau menjaga profitabilitas.
Figma sendiri optimistis model penetapan harga baru berbasis pemakaian (usage-based) untuk kredit AI, yang diluncurkan pada Maret, akan mulai memberikan hasil signifikan pada akhir 2026 hingga awal 2027. Perusahaan mencatat pertumbuhan baik pada jumlah kursi pelanggan berbayar maupun penambahan kredit AI pada kuartal tersebut. Proyeksi pendapatan tahun penuh pun dinaikkan menjadi US$1,463โ1,467 miliar, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya US$1,422โ1,428 miliar dan di atas konsensus analis US$1,44 miliar.
Bagi pasar teknologi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Perusahaan rintisan (startup) lokal yang berlomba mengadopsi AI kerap terjebak dalam siklus serupa: pertumbuhan pengguna yang tinggi belum tentu sejalan dengan profitabilitas. Figma menunjukkan bahwa investor mulai sensitif terhadap keseimbangan antara investasi AI dan margin, sebuah sinyal yang relevan bagi ekosistem startup di Tanah Air yang tengah gencar memanfaatkan AI untuk menarik pendanaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Figma mampu membuktikan bahwa investasi AI-nya akan berbuah manis, atau justru menjadi beban yang berkepanjangan. Jika model harga baru berhasil, bukan tidak mungkin Figma menjadi tolok ukur bagaimana perusahaan SaaS mengkomersialkan AI tanpa mengorbankan kesehatan finansial. Namun, jika gagal, aksi jual saham yang terjadi kali ini bisa menjadi awal dari koreksi yang lebih dalam.



