Hipotermia Ancam Pendaki Gunung Kayu Satu: Tim SAR Evakuasi Mahasiswa Unpatti
Baca dalam 60 detik
- Seorang mahasiswa Universitas Pattimura mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Kayu Satu, Ambon, dan berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan.
- Korban, Muhammad Syafi'i Alfaruq Dahlan (18), ditemukan dalam kondisi sadar dan segera mendapat penanganan medis di RS Siloam.
- Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan fisik dan perlengkapan bagi pendaki gunung di Indonesia.

Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seorang mahasiswa yang mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Kayu Satu di Kota Ambon, Maluku, pada Minggu (21/6) pagi. Korban, Muhammad Syafi'i Alfaruq Dahlan (18), ditemukan dalam kondisi selamat setelah tim menempuh perjalanan kaki sejauh 18 kilometer selama dua jam.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kota Ambon, Muhammad Arafah, menjelaskan bahwa laporan diterima pada pukul 05.30 WIT dari seorang warga bernama Niken Ratih. Tim langsung dikerahkan dan tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIT setelah berkoordinasi dengan masyarakat setempat. "Korban ditemukan pada pukul 06.57 WIT dalam keadaan selamat dan langsung diberikan penanganan medis," ujar Arafah dalam keterangan tertulis.
Korban merupakan bagian dari rombongan tujuh mahasiswa Universitas Pattimura yang melakukan pendakian pada Sabtu (20/6) malam sekitar pukul 22.40 WIT. Rombongan berencana berkemah di puncak, namun dalam perjalanan, Muhammad Syafi'i mengalami gejala hipotermia yang membutuhkan pertolongan segera. Setelah dievakuasi, korban dibawa ke Rumah Sakit Siloam Kota Ambon untuk perawatan lebih lanjut.
Kasus hipotermia di gunung bukanlah hal baru di Indonesia. Dengan medan yang menantang dan perubahan cuaca yang cepat, pendaki sering kali tidak siap menghadapi suhu dingin ekstrem. Peralatan yang memadai seperti jaket tebal, sleeping bag, dan makanan berkalori tinggi menjadi krusial. Sayangnya, masih banyak pendaki pemula yang mengabaikan aspek keselamatan.
Menurut data Basarnas, kecelakaan pendakian di Indonesia cenderung meningkat pada musim liburan. Gunung-gunung populer seperti Semeru, Rinjani, dan Kerinci kerap mencatat insiden serupa. Edukasi tentang gejala hipotermia—seperti menggigil, kebingungan, dan bicara melantur—perlu digencarkan agar pendaki bisa bertindak cepat.
"Alhamdulillah, setelah dilaporkan dan dilaksanakan operasi SAR, korban berhasil dievakuasi dengan selamat dan sudah berada di rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," tutup Arafah. Pertanyaan yang mengemuka: apakah regulasi pendakian di Indonesia sudah cukup ketat untuk mencegah tragedi serupa? Ataukah kesadaran individu yang masih menjadi titik lemah?

