Dana Stimulan Bencana di Pidie Jaya Disulap Jadi Modal Usaha, Ekonomi Warga Mulai Bangkit
Baca dalam 60 detik
- Warga korban banjir di Pidie Jaya, Aceh, menggunakan dana stimulan pemerintah sebagai modal membuka usaha kecil di hunian sementara.
- Milawati dan Salwati adalah contoh warga yang berhasil memulai usaha makanan ringan, membantu pemulihan ekonomi keluarga pascabencana.
- Langkah ini menunjukkan bahwa bantuan rekonstruksi tidak hanya memulihkan fisik, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Bantuan pemerintah senilai Rp8 juta yang diterima korban banjir di Pidie Jaya, Aceh, tidak seluruhnya digunakan untuk memperbaiki rumah. Sebagian dana stimulan itu justru diubah menjadi modal usaha kecil-kecilan di kawasan hunian sementara (huntara), sebuah langkah yang dinilai mampu menggerakkan roda ekonomi lokal pascabencana.
Milawati, warga Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, adalah salah satu yang memilih jalur ini. Bersama suaminya, ia membuka lapak makanan ringan di kompleks huntara. "Hasil jualan ini kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu ekonomi keluarga," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima dari Kementerian Dalam Negeri. Selain dana stimulan Rp8 juta, Milawati juga mengantongi bantuan koperasi sebesar Rp200 ribu yang ikut menopang usahanya. Saat ini ia tinggal berdua dengan suami di huntara, sementara anak-anaknya bekerja di luar daerah dan satu orang masih mondok di pesantren.
Kisah serupa datang dari Salwati, tetangga Milawati di desa yang sama. Ia mengalokasikan sebagian dana stimulan untuk memulai usaha kecil di huntara. "Jualan ini untuk memenuhi uang belanja hari-hari," kata Salwati. Berbagai makanan dan minuman ia jajakan kepada warga sekitar, menciptakan sumber penghasilan baru di tengah minimnya lapangan kerja pascabencana.
Fenomena ini menunjukkan bahwa peran Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tidak berhenti pada perbaikan infrastruktur. Bantuan yang diberikan justru menjadi fondasi bagi pemulihan ekonomi warga. Dengan memanfaatkan dana stimulan sebagai modal usaha, para korban bencana tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi mampu menciptakan penghidupan mandiri.
Di Indonesia, pola pemanfaatan dana bantuan bencana untuk kegiatan produktif masih jarang terjadi. Biasanya, dana stimulan habis untuk perbaikan rumah dan kebutuhan konsumtif. Namun, kisah di Pidie Jaya ini bisa menjadi model bagi daerah rawan bencana lain. Pertanyaannya, akankah pemerintah mendorong skema serupa secara lebih terstruktur agar dampak ekonominya lebih luas dan berkelanjutan?



