Naira Tertekan di Tengah Pasokan Valas Terbatas, Cadangan Devisa Nigeria Tembus 51 Miliar Dolar
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah terhadap dolar AS di pasar valas Nigeria karena pasokan tidak mampu mengejar lonjakan permintaan, dipicu aksi ambil untung investor asing di bursa saham.
- Cadangan devisa Nigeria mencapai 51,035 miliar dolar AS pada 18 Juni 2026, tertopang pendapatan minyak dan remitansi, namun tekanan geopolitik global masih membayangi.
- Ketidakpastian perundingan AS-Iran dan gencatan senjata Israel-Hezbollah membuat harga minyak Brent berfluktuasi, mempengaruhi stabilitas nilai tukar naira ke depan.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di Pasar Valas Nigeria (NFEM) seiring ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing yang kian melebar. Pelemahan ini terjadi saat cadangan devisa negara justru mencatat rekor baru di atas 51 miliar dolar AS, menimbulkan tanda tanya besar tentang efektivitas intervensi bank sentral.
Data terbaru Bank Sentral Nigeria (CBN) menunjukkan kurs resmi naira sempat menyentuh 1.374 per dolar AS untuk sejumlah transaksi di jendela NFEM pada Jumat lalu. Meski sempat menguat ke 1.356 setelah adanya tambahan likuiditas dari investor asing, eksportir, dan korporasi non-bank, tekanan jual tetap dominan. Analis Broadstreet yang dikutip MarketForces Africa menilai depresiasi ini dipicu aksi ambil untung (profit taking) investor asing di bursa saham Nigeria, yang kemudian mendorong konversi naira ke dolar dalam jumlah besar.
Fluktuasi nilai tukar juga terlihat pada mata uang utama lainnya: euro ditutup di 1.570,9281 naira dan poundsterling di 1.814,0952 naira. Volume transaksi antar bank bergerak liar antara 39,987 juta dolar hingga 184,337 juta dolar, menandakan ketidakpastian likuiditas yang masih tinggi. Tanpa dukungan intervensi signifikan dari CBN, naira bergerak dalam rentang 1.363โ1.370 sepanjang sesi.
Di sisi fundamental, cadangan devisa Nigeria justru menunjukkan kinerja positif. Data CBN memperlihatkan posisi gross external reserves mencapai 51,035 miliar dolar AS pada 18 Juni 2026, naik dari 50,962 miliar dolar sehari sebelumnya. Akumulasi ini berlanjut sejak awal bulan, didorong oleh pendapatan minyak yang lebih tinggi, remitansi, serta penurunan impor minyak. Namun, analis memperingatkan bahwa ketergantungan pada harga minyak membuat cadangan rentan terhadap gejolak geopolitik global.
Harga minyak mentah Brent sempat turun pekan ini setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, pembatalan mendadak perundingan di Swiss pada Jumat lalu memicu kenaikan kembali: Brent ditutup naik 0,9% ke 80,57 dolar per barel, sementara West Texas Intermediate naik 1,23% ke 77,54 dolar. Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran sempat meredakan kekhawatiran pasokan, tetapi ketidakpastian masih membayangi.
Bagi Indonesia, dinamika naira dan cadangan devisa Nigeria memberikan pelajaran berharga. Sebagai sesama negara eksportir komoditas, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa: stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh aliran modal asing dan harga komoditas global. Keputusan Bank Indonesia untuk tidak terlalu sering melakukan intervensi langsungโmirip dengan sikap CBNโbisa menjadi bumerang jika ekspektasi pasar tidak terkelola dengan baik. Di sisi lain, akumulasi cadangan devisa yang kuat memberi ruang gerak lebih leluasa dalam menghadapi gejolak eksternal.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada kelanjutan perundingan AS-Iran dan dampaknya terhadap harga minyak. Jika kesepakatan damai tercapai, pasokan minyak global bisa meningkat dan menekan harga, yang berpotensi memperlemah naira lebih lanjut. Sebaliknya, jika ketegangan kembali memuncak, lonjakan harga minyak justru bisa memperkuat cadangan devisa Nigeria. Pertanyaan besarnya: mampukah CBN menjaga stabilitas naira tanpa menguras cadangan yang baru saja terkumpul?



