Polisi Perketat Akses ke Wilayah Terdampak Badai di Bercham, Antisipasi Pencurian
Baca dalam 60 detik
- Lima zona di Bercham, Perak, disegel polisi setelah badai melanda, dengan pembatasan ketat pada malam hari untuk mencegah aksi kriminal.
- Hingga Minggu pagi, 492 laporan terkait badai telah diterima melalui Ops Bencana, namun kerugian total masih dalam pendataan.
- Fenomena landspout diduga menjadi penyebab badai yang memengaruhi lebih dari 200 rumah, menurut pernyataan anggota parlemen setempat.

Polisi menyegel lima zona di kawasan terdampak bencana di Bercham, Ipoh, dan membatasi pergerakan keluar-masuk guna mencegah pencurian atau pembobolan rumah. Langkah ini diambil setelah badai dahsyat melanda wilayah tersebut pada Jumat lalu, merusak lebih dari 200 rumah.
Kepala Polisi Distrik Ipoh, Asisten Komisioner Muhammad Najib Hamzah, menyatakan bahwa pihaknya memberikan kelonggaran bagi warga yang ingin masuk atau keluar dari area terdampak, terutama mereka yang membersihkan rumah pada malam hari. Namun, pengawasan akan diperketat saat malam tiba karena sejumlah kawasan, termasuk Anjung Bercham, masih belum memiliki aliran listrik.
βJika warga ingin membersihkan rumah atau barang-barang mereka di malam hari, kami akan memantau dan memverifikasi apakah rumah itu milik mereka. Kami khawatir ada aksi pencurian yang menyamar sebagai kegiatan bersih-bersih,β ujar Muhammad Najib dalam konferensi pers setelah meninjau posko pengendalian insiden di kantor polisi Bercham, Minggu (21/6).
Hingga pukul 08.00 pagi, polisi telah menerima 492 laporan terkait badai melalui Ops Bencana. Muhammad Najib menambahkan bahwa tidak ada batas waktu bagi korban untuk melaporkan kerugian. Namun, total kerugian di area terdampak masih belum dapat dipastikan.
Anggota Parlemen Ipoh Barat sekaligus Wakil Menteri di Departemen Perdana Menteri (Hukum dan Reformasi Kelembagaan), M. Kulasegaran, melaporkan bahwa badai yang terjadi pada Jumat itu memengaruhi lebih dari 200 rumah di Bercham. Ia menyebut peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini diduga disebabkan oleh fenomena landspout, yaitu pusaran angin yang mirip tornado namun tidak terhubung dengan awan kumulonimbus.
Fenomena landspout memang jarang terjadi di Malaysia, namun perubahan iklim global meningkatkan potensi cuaca ekstrem serupa. Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia sebelumnya telah memperingatkan potensi angin puting beliung dan fenomena serupa selama musim pancaroba.
Polisi terus berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memastikan keamanan dan kelancaran proses pemulihan. Pertanyaan yang muncul kini adalah seberapa cepat infrastruktur listrik dapat dipulihkan dan apakah bantuan pemerintah akan cukup untuk memulihkan kehidupan warga yang terdampak.


