Neil Gourley: Siap Merangkak Demi Medali di Glasgow
Baca dalam 60 detik
- Pelari Skotlandia Neil Gourley bertekad tampil di Commonwealth Games Glasgow meski cedera beruntun.
- Dua cedera serius—robek tendon patela dan patah tulang kaki—nyaris menggagalkan persiapannya.
- Gourley akan bersaing dengan Josh Kerr dan Jake Wightman dalam lomba mil yang dinanti.

Neil Gourley, pelari jarak menengah asal Skotlandia, berjanji akan tampil di Commonwealth Games Glasgow musim panas ini meski harus merangkak di lintasan. Atlet berusia 31 tahun itu belum pulih total dari serangkaian cedera yang menghantuinya sepanjang musim dingin, namun tekadnya untuk berlaga di kampung halaman tak tergoyahkan.
"Saya akan ada di sana meski harus merangkak mengelilingi empat lap lintasan," ujar Gourley kepada BBC Scotland. Pernyataan itu mencerminkan betapa besar ambisinya untuk tampil di depan publik sendiri setelah dua kali gagal berkompetisi di Glasgow karena masalah kesehatan. Pada 2019, ia terpaksa melewatkan final 1500m European Indoor Championships karena sakit, dan tahun lalu ia absen di World Indoor Championships akibat cedera.
Musim dingin Gourley dimulai dengan cedera robek tendon patela yang sudah mengganggunya sejak musim lalu. Setelah kembali berlatih pada Februari, ia justru mengalami patah tulang kaki pada Maret, yang memaksanya istirahat lebih lama. Dua cedera berturut-turut itu membuat persiapannya untuk menjadi pahlawan di kandang sendiri menjadi sangat berat. Namun, Gourley optimistis berkat latihan silang yang ia jalani, kebugarannya tidak terlalu jauh tertinggal.
"Saya mulai melihat konsistensi sekarang, dan berkat latihan silang, saya tidak terlalu jauh dari kebugaran," jelas Gourley. Ia mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah mengubah kondisi itu menjadi kebugaran penuh tepat waktu untuk Commonwealth Games. "Saya tidak akan pernah menyembunyikan fakta bahwa saya ingin berada di puncak kejuaraan dan saya ingin memenangkan medali di Glasgow, meskipun itu akan sangat menantang."
Gourley juga harus bersaing dengan rekan senegaranya, Josh Kerr dan Jake Wightman, yang sama-sama menjadi bintang lari jarak menengah Skotlandia. Pertarungan mereka di nomor mil diprediksi menjadi salah satu momen paling dinanti dalam Commonwealth Games tahun ini. Gourley sadar waktu tidak berpihak padanya, namun ia melihat tanda positif dari lomba 1500m di Marseille baru-baru ini yang ia sebut sebagai "pengusir karat".
"Masih banyak yang harus dilakukan dalam enam minggu ke depan, tapi saya tidak setertinggal yang saya kira," katanya. Ia menekankan bahwa Glasgow adalah prioritas utamanya tahun ini, melebihi kejuaraan lainnya. "Tidak ada yang bisa menandingi pentingnya Glasgow tahun ini. Beberapa kekecewaan karena tidak bisa tampil di kota sendiri menjadi bagian besar dari motivasi saya. Saya berusaha tidak memaksakan diri karena bisa terlalu menginginkannya."
Bagi Indonesia, kisah Gourley menjadi pengingat bahwa perjuangan atlet melawan cedera adalah bagian tak terpisahkan dari olahraga. Commonwealth Games 2026 di Glasgow akan menjadi ajang bagi atlet-atlet Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk bersaing dengan bintang dunia. Gourley membuktikan bahwa tekad dan kerja keras bisa mengalahkan rintangan fisik, sebuah pelajaran berharga bagi atlet Tanah Air yang tengah mempersiapkan diri menuju multi-event internasional.
Dengan waktu yang semakin sempit, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Gourley mengatasi keterbatasan fisiknya dan bersaing dengan Kerr serta Wightman di depan publik Glasgow? Atau akankah cedera kembali menghalangi mimpinya untuk menjadi pahlawan di kampung halaman?