Max Burgin Kalahkan Juara Olimpiade di Diamond League Rabat
Baca dalam 60 detik
- Pelari Inggris Max Burgin mencatat waktu 1:42.98 untuk mengalahkan Emmanuel Wanyonyi di nomor 800m Diamond League Rabat.
- Kemenangan ini menjadi gelar Diamond League pertama Burgin, sekaligus sinyal persaingan ketat menuju Olimpiade Paris.
- Soufiane El Bakkali mempertahankan dominasinya di steeplechase dengan catatan waktu terbaik dunia musim ini.

Max Burgin, pelari jarak menengah asal Inggris, menorehkan prestasi terbesar dalam kariernya dengan mengalahkan juara Olimpiade Emmanuel Wanyonyi di nomor 800 meter Diamond League yang digelar di Rabat, Maroko, Minggu (19/5).
Burgin, 24 tahun, finis dengan catatan waktu 1 menit 42,98 detik, unggul lebih dari setengah detik atas Wanyonyi yang harus puas di posisi kedua dengan waktu 1:43,56. Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Burgin di ajang bergengsi Diamond League, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu calon kuat medali di Olimpiade Paris 2024.
Lomba berlangsung sengit sejak awal. Wanyonyi, yang baru saja meraih emas Olimpiade Tokyo, mengaku sudah menduga akan mendapat tekanan maksimal dari lawan-lawannya. "Saya sudah mengantisipasi perlombaan seperti ini, di mana seseorang akan mendorong saya hingga batas kemampuan," ujar pelari asal Kenya itu. Meski finis kedua, Wanyonyi tetap optimistis dengan fokusnya musim ini yang sepenuhnya tertuju pada nomor 800 meter, bukan 1500 meter.
Di nomor lain, atlet Amerika Serikat Jacory Patterson mencatat rekor pertemuan dengan waktu 44,11 detik di 400 meter, mengalahkan Matthew Hudson-Smith dari Inggris yang finis kedua dengan 44,25 detik. Hudson-Smith mengaku senang bisa kembali berlaga setelah mengalami cedera ringan. "Ini awal yang bagus. Saya perlu membangun performa untuk sisa musim," katanya.
Di nomor 200 meter, Kenny Bednarek tampil dominan dengan catatan 19,69 detik, mengalahkan juara Olimpiade Letsile Tebogo dari Botswana yang finis kedua. Sementara itu, tuan rumah Soufiane El Bakkali menjadi bintang penutup dengan kemenangan kelima berturut-turut di Rabat. Ia mencatat waktu 7:57,25 di steeplechase 3000 meter, yang merupakan catatan tercepat di dunia musim ini. Frederik Ruppert dari Jerman memecahkan rekor Eropa dengan finis kedua dalam waktu 7:57,80.
Bagi Indonesia, prestasi Burgin dan persaingan ketat di nomor lari jarak menengah menjadi pelajaran berharga. Atlet-atlet Indonesia yang berkiprah di level Asia, seperti Lalu Muhammad Zohri di nomor 100 meter, dapat melihat bahwa konsistensi latihan dan strategi balap yang matang mampu mengalahkan atlet-atlet papan atas dunia. Diamond League juga kerap menjadi barometer performa atlet-atlet Asia menjelang Olimpiade, sehingga perkembangan ini patut dicermati oleh pengurus atletik nasional.
Dengan hasil ini, persaingan menuju Olimpiade Paris 2024 semakin menarik. Mampukah Burgin mempertahankan performa dan merebut medali emas? Atau justru Wanyonyi yang akan bangkit dan kembali mendominasi? Jawabannya akan terjawab di lintasan-lintasan berikutnya.



