Keely Hodgkinson Siapkan ‘Perang Rekor Dunia’ di London Diamond League
Baca dalam 60 detik
- Pelari 800m asal Inggris, Keely Hodgkinson, menargetkan pemecahan rekor dunia 43 tahun di London Diamond League Juli mendatang.
- Rekor 1:53.28 milik Jarmila Kratochvilova (1983) menjadi sasaran utama setelah ia memecahkan rekor dunia dalam ruangan pada Februari lalu.
- Jika berhasil, pencapaian ini akan menjadi momentum bagi atletik Indonesia untuk mengejar standar internasional di nomor lari jarak menengah.

Keely Hodgkinson, juara Olimpiade 800 meter, menyebut London Diamond League musim panas ini bisa menjadi ajang 'perang rekor dunia' saat ia berusaha memecahkan rekor tertua di cabang atletik di hadapan publik sendiri.
Pelari berusia 24 tahun itu akan kembali ke London Stadium untuk pertama kalinya sejak mencetak rekor Inggris menjelang puncak kariernya di Olimpiade Paris 2024. Setelah musim 2025 yang terganggu cedera, Hodgkinson mengaku tidak pernah melewatkan satu pun sesi latihan selama musim dingin—hasilnya terbukti saat ia menghancurkan rekor dunia dalam ruangan pada Februari lalu.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, atletik tidak memiliki kejuaraan dunia luar ruangan sebagai prioritas. Hal ini membuat Hodgkinson memusatkan perhatian pada rekor dunia 800 meter yang telah bertahan 43 tahun, yakni 1 menit 53,28 detik, yang dicetak atlet Ceko Jarmila Kratochvilova pada Juli 1983. Rekan setimnya, Josh Kerr, juga telah mengumumkan niatnya untuk membidik rekor dunia mil—yang bertahan sejak 1999—di London pada 18 Juli.
"Tentu saya ingin itu terjadi di tanah air sendiri," ujar Hodgkinson. "Saya sangat bersemangat dengan London dan penontonnya. Sebagai orang Inggris, bertanding di sana sangat menyenangkan. Ini pasti hal utama yang saya nantikan dalam kalender tahun ini. Mungkin akan menjadi pertarungan rekor dunia. Siapa yang bisa mendapatkan yang lebih baik?" candanya.
Hodgkinson akan memulai musim luar ruangannya di Rome Diamond League pada 4 Juni, menguji kecepatan maksimalnya di nomor 400 meter, sebelum berburu rekor dunia dengan lomba 800 meter di Stockholm dan Eugene. Jika rekor dunia tidak jatuh di London, ia masih memiliki kesempatan berlaga di tanah air pada Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, Agustus mendatang.
Namun, setelah mengalami dua robekan hamstring signifikan selama tahun pertamanya sebagai juara Olimpiade, ia tidak mau gegabah. "Kami punya rencana A, tetapi olahraga punya rencananya sendiri. Jika bentuk tubuh saya mendukung untuk mencoba lebih awal atau lebih lambat, ya begitulah jadinya," katanya.
Di luar target pribadi, Hodgkinson juga mendorong agar Kejuaraan Dunia Atletik 2029 digelar di London Stadium. Pemerintah Inggris telah mendukung penawaran tersebut, tetapi rencana itu terganjal keengganan klub sepak bola West Ham untuk meminjamkan stadion selama sekitar tiga pekan di awal musim 2029-30. "Saya sangat bersemangat. Saya pikir tidak akan ada kesempatan dalam karier saya untuk membawa kejuaraan dunia kembali ke Inggris. Itu akan luar biasa bagi olahraga kami dan generasi berikutnya. Stadion akan penuh setiap hari, saya yakin itu," tegasnya.
Bagi Indonesia, pencapaian Hodgkinson menjadi pengingat bahwa atletik jarak menengah masih didominasi rekor-rekor lama. Federasi Atletik Indonesia (PASI) dapat menjadikan momen ini sebagai dorongan untuk meningkatkan pembinaan atlet lari 800 meter, mengingat rekor nasional Indonesia masih jauh dari standar dunia. Apakah akan lahir atlet Indonesia yang mampu menyaingi ketangguhan Hodgkinson di masa depan?