Polri Gelar Bhakti Kesehatan di NTT, 5.845 Warga Terlayani Menjelang Hari Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Polda Nusa Tenggara Timur mencatat 5.845 layanan kesehatan gratis dalam program Bhakti Kesehatan yang berlangsung 1β20 Juni 2026.
- Layanan mencakup pengobatan umum, spesialis, operasi katarak, donor darah, hingga terapi kesehatan mental, dengan total 560 kantong darah terkumpul.
- Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80, memperkuat peran Polri di luar keamanan.

Sebanyak 5.845 warga Nusa Tenggara Timur mendapatkan layanan kesehatan gratis dalam program Bhakti Kesehatan yang digelar Polda NTT sejak 1 hingga 20 Juni 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Inisiatif ini tidak hanya menyasar kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, menandai perluasan peran kepolisian di luar tugas keamanan dan ketertiban.
Program yang dikoordinasikan oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda NTT ini menjangkau berbagai wilayah di provinsi kepulauan tersebut. Kepala Biddokkes Polda NTT, AKBP dr. Hery Purwanto, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama di daerah terpencil. "Kami berupaya menghadirkan layanan dari pengobatan umum hingga terapi mental, agar warga yang membutuhkan tidak kesulitan mendapatkan perawatan," ujarnya.
Rincian layanan menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat. Pengobatan umum menjadi yang paling banyak diminati dengan 1.755 pasien, disusul pemeriksaan laboratorium (906 peserta) dan pemeriksaan kesehatan gratis (615 orang). Layanan dokter spesialis juga ramai, termasuk spesialis mata (113 pasien), THT (60), anak (89), obstetri dan ginekologi (15), serta penyakit dalam (69). Selain itu, 239 pasien menjalani perawatan gigi, 311 mendapatkan tindakan bedah minor, dan 10 orang menjalani operasi katarak.
Di bidang kemanusiaan, kegiatan donor darah berhasil mengumpulkan 560 kantong darah yang akan disalurkan ke fasilitas kesehatan setempat. Khitanan massal diikuti 20 anak, sementara penyuluhan Keluarga Berencana dan Kesehatan Ibu Anak menjangkau 30 peserta. Tak ketinggalan, terapi kesehatan mental metode USEFT diberikan kepada 300 orang dalam enam sesi, menunjukkan perhatian serius terhadap isu kesehatan jiwa yang kerap terabaikan di daerah.
Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, mewakili Kapolda Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat. "Kami tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memberikan manfaat langsung di bidang kesehatan. Capaian 5.845 layanan ini adalah komitmen kami untuk meningkatkan kualitas hidup warga NTT," kata Henry. Ia menambahkan, keberhasilan ini berkat sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Bagi Indonesia, program seperti ini relevan mengingat akses layanan kesehatan di wilayah timur masih terbatas. NTT, dengan tingkat kemiskinan dan keterpencilan geografis yang tinggi, kerap menghadapi kendala dalam menjangkau fasilitas kesehatan. Inisiatif Polri ini tidak hanya meringankan beban warga, tetapi juga memperkuat citra institusi sebagai pengayom yang humanis. Ke depan, model layanan serupa bisa direplikasi di daerah lain, terutama saat momentum Hari Bhayangkara atau peringatan nasional lainnya.
Puncak rangkaian Bhakti Kesehatan akan digelar secara nasional pada 23 Juni 2026 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dihadiri langsung oleh Kapolri. Secara terpisah, Polda NTT akan menggelar acara serupa di Mapolda NTT yang terhubung secara virtual dengan Mabes Polri. Pertanyaannya, akankah program ini menjadi agenda tahunan yang berkelanjutan, atau hanya bersifat seremonial belaka?

