Dari Idola Menjadi Rekan: Kisah Pablo Aimar dan Messi di Timnas Argentina
Baca dalam 60 detik
- Pablo Aimar, asisten pelatih Argentina, mengungkapkan kebanggaannya menjadi idola masa kecil Lionel Messi.
- Hubungan keduanya berkembang dari sesama pemain menjadi rekan setim di timnas, dengan Aimar kini menjadi bagian penting dalam kesuksesan Argentina.
- Aimar menekankan pentingnya atmosfer tim dan kepemimpinan Scaloni dalam mengakhiri paceklik gelar Argentina.

Pablo Aimar, asisten pelatih tim nasional Argentina, mengaku bangga menjadi idola masa kecil Lionel Messi—sebuah fakta yang jarang diketahui publik. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Aimar menceritakan perjalanan hubungannya dengan sang kapten, dari sesama pemain hingga kini menjadi rekan di ruang ganti.
Messi, yang kini berusia 36 tahun, pernah mengidolakan Aimar saat masih bermain di River Plate pada era 1990-an. Kini, Aimar yang berusia 46 tahun menjadi tangan kanan pelatih Lionel Scaloni, bersama Walter Samuel dan Roberto Ayala. “Mendengar Messi mengatakan saya idolanya membuat saya sangat bangga,” ujar Aimar. “Saya pernah membaca Zidane berkata hal serupa tentang Enzo Francescoli, dan saya bertanya-tanya bagaimana perasaannya. Sekarang saya mengalaminya sendiri.”
Keduanya pernah bermain bersama di Piala Dunia 2006 dan Copa America 2007, serta berhadapan sebagai lawan saat Aimar di Valencia dan Messi di Barcelona. Kini, mereka kembali mengejar mimpi yang sama: membawa Argentina meraih gelar. Sejak Scaloni mengambil alih pada 2018, Argentina memutus puasa gelar 28 tahun dengan menjuarai Copa America 2021, disusul Piala Dunia 2022. “Apa yang dilakukan Messi sulit ditiru, apalagi di pertandingan penuh tekanan,” kata Aimar.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada pentingnya figur panutan dalam perkembangan pemain muda. Di Indonesia, banyak pemain yang mengidolakan bintang Eropa atau lokal, namun jarang yang kemudian bekerja sama di level tertinggi. Hubungan Aimar-Messi menunjukkan bahwa idola bisa menjadi mentor dan rekan seperjuangan.
Aimar juga memuji Scaloni, yang merupakan rekan setimnya di tim junior Argentina era 1990-an. “Dia membangun tim yang fantastis dan sekelompok orang dengan visi yang sama. Dia memancarkan kepercayaan diri dan ketenangan,” ungkap Aimar. Menjelang pertandingan melawan Austria dan Yordania, Aimar menekankan pentingnya menikmati perjalanan. “Jika Anda tidak menikmati waktu itu, Anda telah menyia-nyiakan 40 hari hidup Anda. Atmosfer yang baik adalah kuncinya.”
Ke depan, Argentina akan menghadapi tantangan baru di turnamen mendatang. Dengan pengalaman dan chemistry yang solid, mampukah mereka mempertahankan dominasi? Atau justru lawan-lawan mulai menemukan celah? Yang jelas, dengan figur seperti Aimar di belakang layar, Argentina memiliki fondasi kuat untuk terus bersaing.



