Eloy Room Menjadi Tembok Kokoh: Kiper Curacao Catat Rekor 15 Penyelamatan di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kiper Curacao Eloy Room menyamai rekor penyelamatan terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia dengan 15 save, membantu timnya menahan imbang Ekuador 0-0.
- Penampilan gemilang Room menjadi fondasi sejarah baru bagi Curacao sebagai negara terkecil yang pernah berlaga di Piala Dunia, sekaligus mengamankan poin perdana mereka.
- Rekor ini menyamai catatan Tim Howard (2014), namun Room menjadi satu-satunya yang mampu menjaga gawang tetap perawan tanpa kebobolan sepanjang laga.

Dalam laga yang seharusnya menjadi pesta gol Ekuador, kiper Curacao Eloy Room tampil sebagai pahlawan dengan catatan 15 penyelamatan—menyamai rekor Piala Dunia—dan mengamankan hasil imbang 0-0 yang membawa pulang poin bersejarah bagi negara kepulauan tersebut.
Sejak menit ketiga, ketika penyerang Ekuador Enner Valencia lolos dan tinggal berhadapan satu lawan satu, Room sudah menunjukkan taringnya. Ia menjatuhkan diri ke kiri dan menepis bola yang nyaris pasti menjadi gol. Tepukan itu menjadi pertanda bahwa malam itu miliknya. Mantan bek Arsenal Martin Keown, yang menjadi pengamat BBC, bergurau bahwa kalkulator mungkin diperlukan untuk menghitung jumlah penyelamatan Room. “Daftar belanja penyelamatan,” katanya. “Reaksinya kelas satu. Sepertinya dia sudah ditakdirkan untuk tidak kebobolan.”
Statistik membuktikan kehebatannya: dari 27 tembakan Ekuador—dengan expected goals (xG) mencapai 3,05—tidak satu pun yang mampu melewati Room. Menurut data Opta sejak 1966, hanya Tim Howard yang pernah mencatatkan 15 save dalam satu pertandingan Piala Dunia, tetapi ia kebobolan dua gol saat Amerika Serikat kalah dari Belgia pada 2014. Room menjadi satu-satunya kiper yang menyamai rekor itu tanpa kebobolan.
Bagi Curacao, hasil ini lebih dari sekadar angka. Negara dengan populasi 156.000 jiwa—lebih kecil dari Pulau Man—menjadi negara terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia. Kekalahan 1-7 dari Jerman di laga pembuka sempat membuat mereka terpuruk, tetapi perlawanan sengit melawan Ekuador membuktikan bahwa mereka tidak datang sebagai pelengkap. “Ini pijakan di sepak bola dunia,” ujar Keown. “Mereka tidak datang hanya untuk memenuhi kuota.”
Perjalanan Room menuju panggung dunia tidaklah biasa. Lahir di Nijmegen, Belanda, ia sempat memperkuat PSV dan Vitesse, meraih gelar Eredivisie dan Piala KNVB, sebelum hijrah ke MLS bersama Columbus Crew pada 2019. Setelah memenangi MLS Cup dan penghargaan penyelamatan terbaik musim, ia sempat kembali ke Eropa, lalu berlabuh di Miami FC yang bermain di kasta kedua Amerika Serikat. Menariknya, dalam sembilan pertandingan liga musim ini, ia tidak pernah melakukan lebih dari lima penyelamatan per laga. Namun di panggung terbesar, ia melampaui dirinya sendiri.
Kunci penampilan Room mungkin terletak pada hobinya bermain padel, olahraga raket yang ia yakini meningkatkan refleks. Di depan 68.598 penonton di Stadion Kansas City—kontras dengan 713 orang di pertandingan Miami FC—ia menuliskan namanya dalam sejarah. “Saya masih harus memprosesnya sendiri,” kata Room. “Pertandingan ini penuh emosi. Saya tahu akan berat. Penyelamatan pertama menjadi penentu nada, memberi kepercayaan diri kepada saya dan tim.”
Bagi Indonesia, kisah Curacao menjadi pengingat bahwa keterbatasan sumber daya bukanlah halangan untuk bersaing di level tertinggi. Dengan populasi lebih dari 270 juta, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sepak bola, namun masih kesulitan menembus Piala Dunia. Dedikasi dan persiapan matang—seperti yang ditunjukkan Room dan timnya—bisa menjadi pelajaran berharga. Apakah PSSI dan para pemangku kepentingan sepak bola Indonesia mampu meniru langkah Curacao: memaksimalkan talenta diaspora dan membangun mental juara?
Curacao masih menyisakan satu laga melawan Pantai Gading di Grup E. Kemenangan akan membawa mereka ke babak 32 besar—sebuah skenario yang sebelumnya hanya mimpi. Namun apa pun hasilnya, malam di Kansas City itu telah mengukuhkan Curacao sebagai negara kecil dengan hati yang besar.



