Dari 100 Kg ke 73 Kg dalam 6 Bulan: Kisah Ayah Filipino yang Kembali Bugar demi Sang Buah Hati
Baca dalam 60 detik
- Seorang eksekutif asal Filipina berhasil menurunkan 27 kilogram dalam enam bulan setelah menyadari dirinya kesulitan mengimbangi aktivitas anaknya yang berusia empat tahun.
- Transformasi ini dicapai melalui kombinasi latihan kekuatan tiga kali seminggu dan diet defisit kalori 1.800 kalori per hari yang dipantau lewat aplikasi.
- Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk di Indonesia, di mana gaya hidup sedentari dan konsumsi makanan cepat saji semakin marak di kalangan pekerja kantoran.

Seorang ayah asal Filipina yang pernah menjadi atlet tenis elit membuktikan bahwa perubahan drastis bisa dimulai dari momen sederhana: saat ia tak mampu berenang secepat anaknya yang masih balita. Ayo Canlas, 37 tahun, kini menjabat sebagai chief financial officer di sebuah perusahaan elektronik di Singapura, berhasil menurunkan berat badan dari 100 kilogram menjadi 73 kilogram hanya dalam waktu enam bulan—sebuah transformasi yang mengubah hidupnya sekaligus menginspirasi banyak orang.
Semuanya bermula pada Desember lalu, saat liburan keluarga di Singapura. Arya, putrinya yang berusia empat tahun, menantangnya berenang menyusuri kolam hotel. “Saya kesulitan mengimbangi kecepatannya,” kenang Canlas. “Dalam pikiran saya, saya masih pemain tenis papan atas. Kenyataannya, saya tidak punya stamina.” Insiden itu menjadi titik balik setelah sebelumnya, pada Oktober 2025, timbangannya mencapai rekor tertinggi 100 kg. Pemeriksaan kesehatan bulan berikutnya menunjukkan tekanan darah dan kolesterolnya melonjak drastis.
Alih-alih langsung mengonsumsi obat, Canlas memilih mengubah gaya hidup. Ia bergabung dengan pusat kebugaran Ultimate Performance dan berlatih kekuatan tiga kali seminggu bersama pelatih pribadi Shamus Sum. Latihan dimulai dengan gerakan compound untuk membangun fondasi, lalu beralih ke kelompok otot lebih kecil. Namun, perubahan terbesar justru datang dari pola makan. Dengan bantuan aplikasi pelacak kalori, ia menjalani diet defisit 1.800 kalori per hari yang kaya protein dan rendah lemak—jauh berbeda dari kebiasaan lamanya yang sarat karbohidrat dan gula.
Canlas mengaku dulu sering melewatkan sarapan dan mengandalkan makanan cepat saji seperti burger, nasi ayam, atau mi goreng Singapura, ditambah bubble tea. Kini menu hariannya terdiri dari sandwich selai kacang rendah lemak sebelum olahraga, tuna kaleng dan telur orak-arik untuk sarapan, serta protein hewani dengan sayuran dan nasi merah atau quinoa untuk makan siang dan malam. Ia juga berhenti total mengonsumsi alkohol dan membatasi gula dengan sistem “anggaran kalori” saat acara keluarga.
Puncak perjalanannya adalah mengikuti Hyrox Challenge di Singapura pada April lalu—sebuah lomba lari yang dikombinasikan dengan tantangan kebugaran. Bersama sang adik, Canlas menargetkan finis dalam 70 menit. “Persiapan Hyrox mengingatkan saya pada masa tenis: tidak ada jalan pintas, niat di setiap latihan, dan mengandalkan sistem pendukung yang kuat,” ujarnya. Ia menambahkan sesi kardio tiga kali seminggu, sering kali berlari sendirian. Hasilnya, ia berhasil menyelesaikan lomba tepat waktu dan menyebutnya sebagai “kelahiran kembali” di hari ulang tahunnya yang ke-37.
Kisah Canlas relevan bagi banyak pekerja kantoran di Indonesia yang menghadapi masalah serupa: gaya hidup sedentari, kurang tidur akibat tuntutan pekerjaan dan keluarga, serta konsumsi makanan cepat saji yang tinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa terus meningkat, mencapai 21,8% pada 2018. Pola makan tinggi karbohidrat dan lemak, ditambah minim aktivitas fisik, menjadi faktor utama. Kisah Canlas menunjukkan bahwa perubahan drastis bukanlah hal mustahil jika ada komitmen dan sistem yang tepat.
Canlas kini menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya. Unggahan LinkedIn-nya tentang Hyrox dibanjiri pesan dari teman dan keluarga yang meminta saran kesehatan. Bahkan beberapa di antaranya ikut mendaftar lomba serupa. “Mereka bilang saya terlihat jauh lebih baik,” katanya. Ia menekankan pentingnya menemukan sistem yang bisa dijalani secara konsisten. “Jika program olahraga dan diet terasa terlalu ekstrem, kemungkinan besar Anda tidak akan mampu bertahan.”
Keberhasilan Canlas juga tak lepas dari dukungan istrinya, Margarette, yang selalu mendampingi dalam setiap langkah. “Dia adalah batu karang saya,” ucap Canlas. Kini, ia bisa berenang dengan nyaman bersama Arya dan bahkan berencana menantangnya berlomba di kolam. Pertanyaannya, mampukah para pekerja Indonesia yang terjebak dalam rutinitas serupa mengikuti jejaknya? Atau akankah mereka terus menunda perubahan hingga terlambat?

