Harbourfront Centre Tutup Akhir Juli, Singapura Siapkan Gedung Baru 33 Lantai
Baca dalam 60 detik
- Pusat perbelanjaan dan terminal feri Harbourfront Centre di Singapura akan berhenti beroperasi pada 27 Juli 2026, setelah beroperasi sejak 1978.
- Pengelola Mapletree akan membangun gedung 33 lantai dengan ruang perkantoran dan ritel, ditargetkan rampung pada paruh pertama 2031.
- Terminal feri dan kapal pesiar akan dipindahkan ke lokasi baru berjarak 70 meter tanpa mengubah rute atau jadwal pelayaran.

Harbourfront Centre, salah satu pusat perbelanjaan dan terminal feri bersejarah di Singapura, akan menghentikan operasionalnya pada 27 Juli 2026. Penutupan ini menjadi awal dari transformasi besar: bangunan tersebut akan dirobohkan dan digantikan oleh gedung pencakar langit setinggi 33 lantai yang dirancang untuk menyediakan ruang perkantoran dan ritel modern.
Pengelola pusat perbelanjaan itu mengumumkan melalui laman Facebook resminya pada Jumat (19/6) bahwa relokasi Singapore Cruise Centre ke alamat baru di 5 HarbourFront Avenue akan mulai berlaku pada 15 Juli 2026. Langkah ini merupakan bagian dari rencana redevelopment yang telah diumumkan sejak Oktober 2025, ketika Mapletree, pengembang properti raksasa asal Singapura, mengonfirmasi bahwa Harbourfront Centre akan ditutup pada paruh kedua 2026.
Proses pemindahan terminal feri dan kapal pesiar akan dilakukan dalam dua tahap sepanjang Juli. Meski lokasi fisik berubah, Singapore Cruise Centre menegaskan bahwa rute feri, destinasi yang dilayani, jadwal keberangkatan, serta lokasi tambatan kapal tidak akan mengalami perubahan. Terminal baru yang hanya berjarak 70 meter dari terminal lama dirancang untuk memastikan transisi berjalan mulus tanpa mengganggu penumpang dan operator.
Bagi pelaku industri maritim dan logistik di kawasan Asia Tenggara, relokasi ini patut dicermati. Singapura selama ini menjadi hub pelayaran utama yang melayani rute ke Indonesia, Malaysia, Thailand, dan destinasi lainnya. Meskipun tidak ada perubahan rute, perpindahan fisik terminal dapat berdampak pada aksesibilitas bagi penumpang yang terbiasa dengan tata letak lama. Namun, jarak yang sangat dekat antara terminal lama dan baru diharapkan meminimalkan kebingungan.
Proyek redevelopment Harbourfront Centre juga mencerminkan tren urban renewal di Singapura, di mana lahan-lahan strategis di kawasan pelabuhan dan pusat kota terus dimaksimalkan untuk pembangunan vertikal. Mapletree, yang juga mengelola properti komersial di berbagai kota Asia, melihat potensi besar dalam mengubah kawasan ini menjadi pusat bisnis dan ritel yang lebih modern. Proyek serupa pernah dilakukan di kawasan Marina Bay dan Raffles Place, yang kini menjadi ikon kota.
Bagi wisatawan dan pengguna jasa feri dari Indonesia, perubahan ini mungkin hanya berdampak kecil. Namun, penting untuk memperbarui informasi rute dan lokasi terminal sebelum bepergian. Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Singapura biasanya akan menyosialisasikan perubahan semacam ini kepada masyarakat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Mapletree akan mengintegrasikan fungsi ritel dan perkantoran di gedung baru tersebut, serta apakah akan ada tambahan fasilitas seperti hotel atau pusat konvensi. Dengan target penyelesaian pada 2031, proyek ini menjadi salah satu indikator arah pembangunan perkotaan Singapura dalam dekade mendatang.



