Piala Dunia 2026: Jerman Comeback, Belanda Gilas Swedia, Curacao Kejutkan Ekuador
Baca dalam 60 detik
- Deniz Undav menjadi pahlawan Jerman dengan dua gol dari bangku cadangan, membawa timnya ke fase gugur.
- Belanda mencatat rekor 14 laga tak terkalahkan di Piala Dunia setelah menghancurkan Swedia 5-1.
- Curacao, negara terkecil yang lolos ke Piala Dunia, menahan imbang Ekuador berkat 15 penyelamatan kiper Eloy Room.

Deniz Undav, yang beberapa tahun lalu masih bekerja di pabrik dengan upah minimum, kini menjadi bintang baru sepak bola Jerman. Pemain berusia 29 tahun itu turun dari bangku cadangan dan mencetak dua gol yang membawa Jerman mengalahkan Pantai Gading 2-1, sekaligus memastikan tiket ke babak gugur Piala Dunia 2026 sebagai juara grup.
Jerman tertinggal lebih dulu lewat gol Franck Kessie, namun Undav mengubah keadaan dalam waktu singkat. Gol pertamanya tercipta dari tendangan voli yang sempurna, disusul gol kedua setelah kontrol dan tembakan akurat. Kemenangan ini juga mencatatkan rekor baru: Jerman kini memiliki 16 kemenangan comeback di Piala Dunia, terbanyak sepanjang sejarah, mengungguli Brasil yang memiliki 15.
Sementara itu, Belanda tampil perkasa dengan menghancurkan Swedia 5-1. Brian Brobbey dan Cody Gakpo masing-masing mencetak dua gol, sementara Crysencio Summerville menambah satu gol setelah masuk sebagai pemain pengganti. Kemenangan ini membuat Belanda memperpanjang rekor tak terkalahkan di Piala Dunia menjadi 14 pertandingan, memecahkan rekor bersama Brasil yang bertahan sejak 1958-1966. Swedia, yang kini harus mengalahkan Jepang di laga terakhir, berada dalam tekanan besar.
Kejutan terbesar datang dari Curacao, negara kepulauan kecil yang menjadi peserta termungil di Piala Dunia 2026. Kiper veteran Eloy Room, 37 tahun, tampil luar biasa dengan melakukan 15 penyelamatan, menggagalkan peluang dari Piero Hincapie, Moises Caicedo, hingga Enner Valencia. Hasil imbang tanpa gol ini menjadi prestasi monumental bagi tim asuhan Dick Advocaat, mengingat Ekuador adalah tim yang diunggulkan.
Bagi Indonesia, performa Curacao menjadi inspirasi bahwa negara dengan populasi kecil pun bisa bersaing di panggung terbesar sepak bola. Timnas Indonesia, yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA dan kualitas permainan, dapat belajar dari disiplin dan semangat juang Curacao. Selain itu, dominasi Belanda dan Jerman menunjukkan pentingnya pengembangan pemain muda dan strategi yang matang, sesuatu yang bisa menjadi acuan bagi pengembangan sepak bola nasional.
Dengan hasil ini, persaingan di fase grup semakin memanas. Jerman dan Belanda sudah mengamankan tempat di babak 16 besar, sementara Swedia dan Pantai Gading harus berjuang habis-habisan di laga terakhir. Pertanyaannya, mampukah Curacao melanjutkan kejutan mereka dan melaju lebih jauh? Atau akankah negara-negara besar seperti Jerman dan Belanda terus mendominasi? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



