Qatar Belum Menyerah: Bek Senior Pedro Miguel Siap Bangkit di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Qatar masih berpeluang lolos ke 32 besar meski dihajar Kanada 6-0, asal menang atas Bosnia di laga pamungkas Grup B.
- Bek veteran Pedro Miguel, yang memiliki darah Cabo Verde dan Portugal, menjadi motor kebangkitan moral skuad Asia itu.
- Kemenangan atas Bosnia akan mengantarkan Qatar ke fase gugur sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, sebuah skenario yang realistis.

Kekalahan telak 6-0 dari Kanada belum mengubur mimpi Qatar di Piala Dunia 2026. Tim asuhan pelatih yang baru saja meraih poin perdana sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di putaran final itu masih menyimpan secercah harapan untuk melangkah ke babak 32 besar. Kuncinya: kemenangan mutlak atas Bosnia dan Herzegovina di pertandingan terakhir Grup B.
Bek senior Pedro Miguel, yang telah mengoleksi lebih dari 100 caps bersama Qatar, menjadi salah satu figur kunci dalam upaya membangkitkan kembali semangat tim. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, pemain berusia 35 tahun itu mengakui bahwa kekalahan dari Kanada merupakan pukulan berat, namun ia menegaskan bahwa timnya tidak akan menyerah begitu saja.
โSaat pertama kali kembali ke ruang ganti, tidak ada yang bisa dikatakan. Tapi kemudian para pemain senior mengambil alih, berbicara satu per satu ke pemain lain, dan mendorong semua orang. Pesannya jelas: kami masih punya satu pertandingan, kami masih bisa berjuang dan terus bermimpi,โ ujar Pedro Miguel.
Pedro Miguel, yang lahir di Portugal dan memiliki darah Cabo Verde, mengaku bahwa turnamen ini sangat emosional baginya. Ia kehilangan ibunya saat berusia 14 tahun, namun kini ia bisa merasakan kebanggaan ganda: Cabo Verde juga tampil di Piala Dunia yang sama. โSaya sangat senang untuk mereka. Saya berharap mereka bisa berbuat lebih banyak untuk negara itu karena rakyatnya pantas mendapatkannya. Sangat indah melihat negara-negara saya bermain di Piala Dunia ini,โ tuturnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Qatar ini bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah berjuang di kancah Asia juga menghadapi tantangan serupa: bagaimana bangkit setelah kekalahan telak dan memanfaatkan peluang tipis untuk lolos. Mentalitas pantang menyerah yang ditunjukkan Pedro Miguel dan rekan-rekannya bisa menjadi inspirasi bagi skuad Garuda.
Qatar sendiri bukan tanpa cela. Dua kartu merah yang diterima saat melawan Kanada membuat mereka bermain dengan sembilan orang, memperparah kekalahan. Namun, Pedro Miguel menekankan pentingnya belajar dari kesalahan. โKami tahu bahwa dengan empat poin kami punya peluang untuk lolos. Itu akan sempurna. Tapi pertama-tama, kami harus memperbaiki kesalahan, memastikan itu tidak terulang, lalu meraih tiga poin. Itu yang terpenting,โ tegasnya.
Pertandingan penentuan melawan Bosnia akan menjadi ujian terakhir bagi Qatar. Apakah mereka mampu bangkit dan menorehkan sejarah baru, atau justru pulang dengan tangan hampa? Satu hal yang pasti, semangat Pedro Miguel dan skuad Asia itu belum padam.



