Bentrok Bellingham vs Queiroz: Tuchel Bela Anak Asuhnya, Ghana Kecewa
Baca dalam 60 detik
- Insiden setengah babak antara Jude Bellingham dan staf pelatih Ghana memicu ketegangan di laga Inggris vs Ghana yang berakhir 0-0.
- Manajer Inggris Thomas Tuchel menilai reaksi Bellingham wajar sebagai bentuk pembelaan diri, sementara Queiroz menyebut pemain itu menggunakan kata-kata kasar.
- Hasil imbang ini membuat Inggris tetap di puncak Grup L dan hanya butuh hasil imbang lawan Panama untuk lolos ke babak 32 besar.

Ketegangan mewarnai laga Inggris vs Ghana yang berakhir tanpa gol di Boston Stadium, Selasa (20/6/2023). Insiden terjadi saat turun minum ketika gelandang Inggris Jude Bellingham terlibat adu mulut dengan pelatih Ghana Carlos Queiroz dan stafnya, hingga harus dilerai rekan setimnya Morgan Rogers.
Keributan dipicu oleh tekel keras Bellingham terhadap bek Ghana Jerome Opoku sesaat sebelum wasit meniup peluit babak pertama. Bellingham mendorong Opoku, dan emosi memuncak saat para pemain dan pelatih berjalan menuju terowongan. Tidak ada kartu yang dikeluarkan, dan tensi mereda saat babak kedua dimulai.
Manajer Inggris Thomas Tuchel membela Bellingham. "Itu adalah pertukaran emosi, dan Jude membela diri serta timnya," ujar Tuchel. "Emosi adalah bagian dari permainan, tetapi kami tidak ingin terganggu oleh hal-hal yang bisa mengalihkan fokus."
Sebaliknya, Queiroz menyesalkan reaksi Bellingham. "Dia bereaksi buruk dengan kata-kata kasar, dan itulah awal mula cerita ini," kata pelatih asal Portugal itu. Bellingham sendiri mengakui tekelnya ceroboh, tetapi menilai staf Ghana berlebihan dalam meminta kartu kuning.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini mengingatkan pada pentingnya pengendalian emosi di lapangan, terutama bagi pemain muda yang menjadi sorotan. Bellingham, yang baru berusia 22 tahun, telah menunjukkan performa impresif bersama Real Madrid dan timnas Inggris, namun temperamennya kerap menjadi perhatian. Di Indonesia, di mana sepak bola memiliki basis penggemar yang besar, kisah seperti ini bisa menjadi pelajaran tentang profesionalisme dan sportivitas.
Hubungan Tuchel dan Bellingham memang tidak selalu mulus. Sebelum Piala Dunia, Tuchel sempat mengkritik perilaku Bellingham saat kalah dari Senegal sebagai "memuakkan", meski kemudian meminta maaf. Pada November lalu, Tuchel juga mengatakan akan "meninjau" sikap Bellingham setelah reaksinya saat diganti dalam laga kualifikasi melawan Albania. Namun, di laga ini, Tuchel justru membela pemainnya.
Bellingham, yang menjadi pemain terbaik dalam laga melawan Ghana, justru merendah. "Saya tidak pantas mendapatkannya. Seharusnya diberikan kepada pemain Ghana yang bertahan dengan baik," ujarnya kepada BBC. "Saya punya beberapa momen tetapi tidak bisa masuk ke permainan. Saya berterima kasih kepada siapa pun yang memilih."
Hasil imbang ini menjadi pengingat bagi Inggris bahwa mereka tidak boleh lengah. Setelah menang 4-2 atas Kroasia, mereka kesulitan menembus pertahanan rapat Ghana. Kini, Inggris hanya butuh satu poin dari Panama untuk memastikan tiket ke babak gugur. Pertanyaan besarnya: bisakah Bellingham dan kawan-kawan tampil konsisten tanpa terprovokasi?



