Derbi DIY Kembali ke Super League: Seto Nurdiyantoro Serukan Rivalitas Sehat dan Fair Play
Baca dalam 60 detik
- PSS Sleman promosi ke Super League 2026/2027 sebagai runner-up Pegadaian Championship, memastikan Derbi DIY kembali mempertemukan PSIM Yogyakarta.
- Legenda sepak bola Seto Nurdiyantoro menilai rivalitas kedua tim bisa menjadi tontonan berkualitas dan mengganggu dominasi klub besar seperti Persib, Persija, dan Persebaya.
- Seto mengingatkan suporter untuk menjaga sportivitas dan menjadikan derbi sebagai ajang mempererat persaudaraan, bukan konflik.

Rivalitas sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta akan kembali memanas setelah PSS Sleman memastikan promosi ke Super League 2026/2027 sebagai runner-up Pegadaian Championship 2025/2026. Kepastian ini sekaligus menghidupkan kembali Derbi DIY yang mempertemukan PSS dengan PSIM Yogyakarta, dua klub dengan basis suporter fanatik dan sejarah panjang di kancah sepak bola nasional.
Legenda sepak bola Yogyakarta, Seto Nurdiyantoro, menyambut antusias kembalinya derbi ini. Menurutnya, pertandingan antara PSIM dan PSS selalu memiliki atmosfer berbeda dibanding laga lainnya di Liga Indonesia. "Harapannya tentu menjadi tontonan yang menarik. Namanya kompetisi, ya harus berusaha jadi yang terbaik," ujar Seto, yang pernah membela dan melatih kedua klub tersebut.
Seto menilai kehadiran dua wakil DIY di kasta tertinggi tidak hanya sekadar pelengkap. Ia optimistis PSIM dan PSS mampu memberikan kejutan dan mengganggu dominasi klub-klub mapan seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya. Dengan dukungan suporter yang loyal serta sejarah rivalitas yang panjang, Derbi DIY diprediksi menjadi salah satu laga paling dinanti musim depan.
Namun, di balik tensi tinggi yang mewarnai rivalitas, Seto mengingatkan pentingnya sportivitas. Ia menekankan bahwa persaingan di lapangan harus berjalan sehat dan tetap menjunjung tinggi fair play. "Ini menjadi momentum untuk teman-teman suporter untuk saling menghargai, suportif, dan bisa memaknai fair play-nya lebih," kata mantan pemain Persiba Bantul itu. Seto berharap Derbi DIY bisa menjadi contoh rivalitas sehat dalam sepak bola Indonesia, di mana suporter dari kedua kubu dapat menunjukkan kedewasaan dalam mendukung tim masing-masing.
Kembalinya Derbi DIY juga menjadi angin segar bagi persepakbolaan Indonesia. Dengan dua klub asal Yogyakarta yang sama-sama memiliki potensi besar, kompetisi Super League musim depan dipastikan semakin menarik. Pertanyaan besarnya, akankah PSIM dan PSS mampu bersaing di papan atas, atau justru hanya menjadi tim penggembira? Yang jelas, atmosfer Derbi DIY siap menyuguhkan duel berkualitas yang dinanti-nantikan.



