Dari Pabrik ke Panggung Dunia: Deniz Undav, Super-Sub Jerman yang Mengubah Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Deniz Undav mencetak dua gol dalam kemenangan dramatis Jerman atas Pantai Gading, memastikan langkah ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2014.
- Pemain berusia 29 tahun itu sempat berseteru dengan pelatih Julian Nagelsmann, namun kini menjadi kandidat kuat starter berkat torehan sembilan gol dalam 11 laga internasional.
- Perjalanan Undav dari pekerja pabrik dengan upah £120 per pekan hingga menjadi pahlawan Jerman menginspirasi banyak pihak, termasuk penggemar sepak bola Indonesia.

Deniz Undav, pemain pengganti yang sempat diragukan kemampuannya oleh pelatih Julian Nagelsmann, kini menjadi pahlawan Jerman setelah dua golnya memastikan kemenangan 2-1 atas Pantai Gading pada babak grup Piala Dunia. Hasil ini membawa Jerman lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya sejak menjadi juara pada 2014.
Undav, yang baru tampil sebagai pemain pengganti dalam dua pertandingan, telah mencatatkan lima kontribusi gol—tiga gol dan dua assist—menyamai rekor pemain cadangan paling produktif di Piala Dunia sejak 1966 yang dipegang Roger Milla (Kamerun, 1990). Namun, tempatnya di skuad Jerman sempat terancam setelah ia terlibat perseteruan publik dengan Nagelsmann pada Maret lalu. Kala itu, Undav menyatakan ambisinya menjadi starter, tetapi Nagelsmann menanggapinya dengan peringatan bahwa komentar semacam itu hanya menambah tekanan. Sang pelatih bahkan menyebut Undav tidak akan mencetak gol jika bermain sejak awal, meski kemudian meminta maaf.
Kini, Undav membuktikan diri lewat performa di lapangan. Dengan sembilan gol dalam 11 penampilan internasional, ia menjadi kandidat kuat untuk menggeser Kai Havertz sebagai starter. "Ya, pasti," ujar Nagelsmann saat ditanya apakah Undav bisa menjadi starter melawan Ekuador pada laga penutup grup. "Mengapa saya harus merusak momentumnya? Dia masuk dua kali dan mencetak gol dua kali."
Perjalanan Undav menuju panggung dunia sungguh luar biasa. Pada usia 14 tahun, ia ditolak oleh Werder Bremen karena dianggap terlalu pendek. "Itu menghancurkan hati saya," kenangnya dalam wawancara dengan 7sur7. Namun, ia tidak menyerah. Di usia 17 tahun, ia bermain di divisi keempat Jerman dengan upah £120 per pekan sambil bekerja delapan jam sehari mengoperasikan mesin laser di pabrik. "Saya bangun sekitar pukul 04.00, pergi ke pabrik, lalu berlatih, dan pulang sekitar pukul 20.00... sebelum mengulanginya lagi keesokan harinya," ceritanya.
Kariernya melejit setelah pindah ke Union Saint-Gilloise di divisi kedua Belgia pada 2020, membawa klub promosi dan mencetak 25 gol di kasta tertinggi. Hal itu mengantarkannya ke Brighton di Premier League, meski hanya lima gol dalam 22 pertandingan. Dipinjamkan ke Stuttgart pada 2024, ia kemudian dibeli permanen dan mencetak 19 gol Bundesliga pada musim 2025-26—hanya kalah dari Harry Kane—sehingga layak masuk skuad Piala Dunia.
Kisah Undav mengingatkan pada perjuangan pemain Indonesia yang juga berasal dari latar belakang sederhana. Banyak pesepak bola Tanah Air yang memulai karier dari kompetisi amatir sambil bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Keberhasilan Undav membuktikan bahwa bakat dan kerja keras dapat mengatasi keterbatasan fisik dan finansial. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan ini menjadi inspirasi bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar, meski harus dimulai dari pabrik.
Nagelsmann mengakui keunikan Undav: "Saat pertandingan terbuka, ia hebat bergerak. Saya bisa mempertahankan perannya sebagai finisher. Ia telah mencapai titik tertinggi untuk Piala Dunia." Undav sendiri merasa luar biasa: "Perasaan yang hebat. Saya menginginkan trofi pemain terbaik sebelumnya, tetapi tidak berhasil. Yang penting kami menang dan lolos ke babak berikutnya."
Dengan performa seperti ini, bukan tidak mungkin Undav menjadi kunci Jerman merebut gelar kelima Piala Dunia. Pertanyaannya, akankah Nagelsmann berani mempertaruhkan starting spot untuknya di laga krusial melawan Ekuador? Atau justru mempertahankan peran super-sub yang telah terbukti ampuh?



