Irak Targetkan Produksi Minyak 3 Juta Barel per Hari dalam 60 Hari Pasca-Gencatan Senjata
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perminyakan Irak menargetkan pemulihan produksi minyak hingga 3 juta barel per hari dalam dua bulan ke depan, setelah perang AS-Israel melawan Iran memangkas output hingga 60 persen.
- Kesepakatan damai antara Washington dan Teheran menjadi katalis utama bagi Irak untuk menggenjot kembali produksi dari ladang-ladang selatan yang sempat terhenti.
- Pemulihan ini berpotensi mengerek pasokan minyak global dan mempengaruhi harga, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengamankan pasokan energi alternatif.

Irak bertekad memulihkan produksi minyak mentahnya hingga melampaui 3 juta barel per hari dalam tempo dua bulan, menyusul gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Juru bicara Kementerian Perminyakan Irak, Salim Farhoud, menyatakan bahwa proses restorasi telah dimulai di ladang-ladang minyak utama, terutama di wilayah selatan yang menjadi tulang punggung ekspor negeri itu.
Konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran telah memporak-porandakan infrastruktur minyak Irak. Produksi harian Irak anjlok dari 3,3 juta barel menjadi hanya 1,3 juta barel—penurunan sekitar 60 persen. Angka ini menunjukkan betapa rentannya negara penghasil minyak terbesar kedua di OPEC terhadap gejolak geopolitik. Kini, setelah kesepakatan damai tercapai, Irak berupaya keras mengembalikan kapasitas produksinya ke level semula.
Farhoud mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan operator, terutama perusahaan asal China, masih bertahan di lokasi dan telah memulai pekerjaan perbaikan. Namun, ia menekankan bahwa tidak ada jadwal pasti untuk ekspor kembali ke level sebelumnya, karena kondisi reservoir dan kapasitas produksi bervariasi antar ladang. “Kemungkinan kami akan kembali dalam satu hingga dua bulan ke tingkat produksi sebelumnya, yang melebihi 3 juta barel per hari dari ladang selatan,” ujar Farhoud kepada Iraqi News Agency.
Pemulihan produksi Irak memiliki implikasi langsung bagi pasar energi global. Sebagai anggota OPEC dengan cadangan terbukti 145 miliar barel, setiap perubahan pasokan dari Irak dapat mempengaruhi harga minyak dunia. Bagi Indonesia, yang masih mengimpor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan domestik, kenaikan pasokan global berpotensi menekan harga beli dan mengurangi beban subsidi energi. Namun, stabilitas politik di Irak tetap menjadi faktor kunci yang harus dipantau.
Ke depan, keberhasilan Irak mencapai target produksi akan sangat bergantung pada kelanjutan gencatan senjata dan investasi asing di sektor hulu. Jika target tercapai, Irak tidak hanya akan memulihkan pendapatan negaranya, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemasok utama minyak ke Asia, termasuk Indonesia. Pertanyaannya, akankah stabilitas baru di Timur Tengah bertahan cukup lama untuk memungkinkan pemulihan penuh?


