DHL Catat Kinerja Solid di Tengah Ketidakpastian Geopolitik, Perusahaan Logistik Terbesar Dunia Optimistis Hadapi Tarif dan Konflik Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan DHL naik 13% menjadi 22,4 miliar euro pada kuartal kedua, melampaui ekspektasi pasar.
- CEO Tobias Meyer menyoroti diversifikasi manufaktur global, termasuk dari China, sebagai respons atas volatilitas tarif.
- Perusahaan menaikkan proyeksi laba operasional tahunan menjadi di atas 6,5 miliar euro, didukung permintaan logistik data center dan kesehatan.

Di tengah gejolak geopolitik yang masih membayangi perdagangan global, DHL Group, raksasa logistik asal Jerman, mencatatkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi. Pendapatan perusahaan melonjak 13 persen menjadi 22,4 miliar euro, sementara laba operasional (EBIT) meroket 30 persen menjadi 1,9 miliar euro. Optimisme ini tidak lepas dari strategi diversifikasi manufaktur yang dijalankan para pelanggannya, termasuk produsen asal China, untuk mengantisipasi ketidakpastian tarif dan politik.
Dalam wawancara dengan CNA, CEO DHL Tobias Meyer mengungkapkan bahwa tren relokasi dan penyebaran basis produksi semakin masif. Produsen China yang selama satu dekade terakhir agresif berekspansi ke luar negeri kini mulai membagi pabrik mereka ke berbagai negara untuk mengurangi risiko terkena bea masuk dan gejolak politik. "Mereka mendistribusikan jejak manufaktur untuk melindungi diri dari volatilitas geopolitik, termasuk tarif," ujar Meyer. Langkah ini menjadi sinyal penting bagi rantai pasok global yang selama ini terpusat di satu negara.
Kinerja positif DHL juga ditopang oleh memudarnya dampak tarif timbal balik yang diberlakukan Amerika Serikat pada awal 2025. Meyer menjelaskan, kuartal kedua tahun ini menjadi periode pertama yang secara tahunan tidak lagi terdampak signifikan oleh tarif tambahan. "Sebagian besar tarif mulai berlaku pada Februari, Maret, dan April tahun lalu, sehingga kini efeknya sudah berlalu," katanya. Meski tarif Section 122 yang bersifat sementara digantikan Section 301 pada Juli, tingkat tarif secara keseluruhan relatif stabil, sehingga tidak mengejutkan pelaku usaha.
Namun, DHL tidak lengah. Perusahaan kini mencermati perubahan aturan impor e-commerce bernilai rendah di Uni Eropa yang mulai berlaku 1 Juli. Bea masuk sementara sebesar 3 euro untuk paket senilai hingga 150 euro dari luar blok Eropa ini dimaksudkan untuk menciptakan persaingan yang lebih adil bagi pelaku usaha lokal. "Ini salah satu faktor risiko yang masih kami pertimbangkan untuk kinerja tahun penuh," kata Meyer. Kebijakan ini berpotensi mengubah arus barang dari platform e-commerce lintas batas, yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan volume pengiriman.
Konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian serius. DHL harus menanggung biaya bahan bakar, asuransi, dan pengalihan rute yang meningkat. Meyer bahkan mengungkapkan, biaya asuransi untuk penerbangan ke Israel sempat melebihi biaya operasional pesawat itu sendiri. Meski demikian, perusahaan berhasil membebankan biaya tambahan tersebut kepada pelanggan dan menjaga utilisasi jaringan tetap tinggi. "Kami menghasilkan uang dari layanan yang baik dan tarif dasar, bukan dari biaya tambahan," tegas Meyer. Komitmen investasi sebesar US$500 juta di kawasan itu hingga 2030 tetap dipertahankan, didasari keyakinan pada prospek jangka panjang Timur Tengah yang dinamis dengan populasi muda dan regulasi yang mendukung bisnis.
Di luar manajemen risiko, DHL gencar berinvestasi di sektor-sektor yang diprediksi tumbuh pesat. Pada Maret lalu, perusahaan mengumumkan pembangunan 10 gudang khusus di Amerika Utara untuk mendukung logistik pusat data. Permintaan dari operator pusat data berskala besar dinilai sangat kuat. Sektor kesehatan juga menjadi andalan, dengan investasi berkelanjutan di logistik rantai dingin untuk produk farmasi dan bioteknologi. "Kami tetap fokus pada sektor strategis yang akan tumbuh setidaknya satu dekade ke depan," ujar Meyer.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi ganda. Pertama, diversifikasi manufaktur global membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi di sektor manufaktur bernilai tambah, mengingat posisinya yang strategis di Asia Tenggara. Kedua, perubahan regulasi e-commerce di Eropa dapat memengaruhi pelaku usaha Indonesia yang mengandalkan ekspor melalui platform digital. Para pengusaha perlu mencermati kebijakan bea masuk baru tersebut agar tetap kompetitif di pasar Eropa. Ketiga, komitmen DHL di sektor logistik kesehatan dan data center sejalan dengan upaya Indonesia memperkuat infrastruktur digital dan farmasi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana DHL menavigasi ketidakpastian, tetapi juga apakah Indonesia mampu memanfaatkan momentum pergeseran rantai pasok global ini. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia bisa menjadi salah satu destinasi utama relokasi manufaktur, sekaligus pemain penting dalam logistik regional. Namun, tanpa perbaikan infrastruktur dan regulasi, peluang itu bisa berlalu ke negara tetangga.



