Laba SMRT Trains Hampir Dua Kali Lipat: Sinyal Pemulihan Transportasi Umum Singapura
Baca dalam 60 detik
- Laba bersih SMRT Trains melonjak 85% menjadi S$12,8 juta, didorong kenaikan pendapatan 5,6%.
- Operator kereta Singapura ini mencatat rekor keandalan 2 juta km rata-rata antar gangguan, dua kali lipat standar dunia.
- Perpanjangan lisensi jalur kereta dan kemitraan dengan Guangzhou Metro menjadi kunci strategi jangka panjang SMRT.

Laba bersih SMRT Trains, operator kereta api terbesar di Singapura, hampir dua kali lipat menjadi S$12,8 juta pada tahun fiskal terakhir, didorong oleh peningkatan jumlah penumpang dan pendapatan tarif. Angka ini melonjak dari S$6,9 juta pada periode sebelumnya, menandakan pemulihan yang solid di tengah upaya efisiensi operasional.
Pendapatan perusahaan naik 5,6% atau setara S$51,5 juta, seiring dengan meningkatnya volume penumpang pasca-pandemi. Namun, kenaikan ini sebagian tergerus oleh belanja perawatan dan perbaikan yang lebih tinggi, mencerminkan komitmen SMRT untuk terus berinvestasi pada aset rel dan memperkuat kapabilitas tekniknya. Margin laba perusahaan membaik menjadi 1,3% dari sebelumnya 0,75%, berkat manajemen biaya yang disiplin dan kontrak energi yang diamankan sebelum gejolak geopolitik terkini.
Ketua SMRT Corporation, Seah Moon Ming, mengungkapkan bahwa biaya perawatan kereta total mencapai S$245 juta, sementara biaya energi mencapai S$125 juta. Ia juga menyoroti pencapaian penting: jaringan kereta SMRT mencatat rata-rata sekitar 2 juta kilometer mean antara kegagalan (MKBF) untuk pertama kalinya tahun ini. Angka ini dua kali lipat dari tolok ukur 1 juta MKBF yang dimiliki metro terbaik dunia. MKBF adalah ukuran keandalan yang melacak jarak rata-rata yang ditempuh kereta sebelum mengalami keterlambatan lebih dari lima menit.
“Tingkat keandalan itu tidak terjadi secara kebetulan,” kata Seah. “Ini bukan hasil dari satu terobosan atau usaha satu individu yang luar biasa. Ini datang dari disiplin, kerja tim, dan komitmen untuk terus meningkatkan diri setiap hari.” Pencapaian ini menjadi modal penting bagi SMRT dalam negosiasi perpanjangan lisensi jalur keretanya, yang biasanya memakan waktu lebih dari tiga tahun. Lisensi untuk Thomson-East Coast Line (TEL) berakhir pada 2029, sementara lisensi untuk Jalur Utara-Selatan, Timur-Barat, Circle, dan Bukit Panjang LRT berakhir pada 2031.
Seah menekankan pentingnya perpanjangan lisensi yang lebih panjang, yang menurutnya memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang, memperkuat stabilitas tenaga kerja, dan mengurangi biaya transisi. “Sistem kereta dibangun selama puluhan tahun, dari infrastruktur, kemampuan teknik, hingga keterampilan orang-orang. Hasil jangka panjang paling baik didukung oleh perencanaan jangka panjang,” ujarnya. Isu ini mengemuka setelah SMRT kesulitan menarik penyewa untuk area ritel Stasiun Tanjong Pagar, yang lisensinya berakhir pada 2031.
Di sisi lain, SMRT menjajaki kolaborasi dengan Guangzhou Metro untuk mengembangkan inovasi seperti kontrol kerumunan prediktif dan perawatan kereta. Sistem yang sedang dikembangkan menggunakan data real-time di gerbang tarif untuk memprediksi kepadatan penumpang, memungkinkan SMRT mengerahkan petugas atau kereta tambahan secara proaktif. Guangzhou Metro, yang melayani 9 juta penumpang harian—tiga kali lipat Singapura—telah menggunakan sistem serupa. Kemitraan ini juga mencakup upaya bersama untuk mengoperasikan Cross-Island Line (CRL) masa depan, yang akan menggunakan sistem tenaga rel overhead yang sudah dikuasai Guangzhou Metro.
Dalam pengembangan infrastruktur, SMRT mengumumkan peningkatan depot Mandai senilai S$5,5 juta, yang dijadwalkan selesai pada pertengahan 2027. Upgrade ini akan menggandakan kapasitas perombakan dan memangkas waktu perombakan kereta TEL dari 24 hari menjadi 12 hari. Sementara itu, proyek Rapid Transit System (RTS) Link yang menghubungkan Johor Bahru dan Singapura telah mencapai lebih dari 82% penyelesaian per akhir Juni dan sedang dalam tahap pengujian. Tanggal pembukaan dan tarif akan diumumkan kemudian.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat tingginya minat pada transportasi massal berbasis rel. Keberhasilan SMRT dalam meningkatkan keandalan dan efisiensi dapat menjadi referensi bagi operator KRL Commuter Line atau MRT Jakarta dalam mengadopsi praktik serupa, seperti penggunaan data untuk prediksi kepadatan dan perawatan prediktif. Kolaborasi dengan Guangzhou Metro juga menunjukkan potensi transfer teknologi dan pengetahuan yang bisa diadopsi di kawasan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana SMRT akan menyeimbangkan kebutuhan investasi jangka panjang dengan tekanan tarif yang terjangkau bagi publik. Dengan lisensi yang akan segera berakhir, keputusan pemerintah Singapura mengenai perpanjangan akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan transportasi di kawasan. Apakah model kemitraan dengan operator asing seperti Guangzhou Metro akan menjadi tren baru di Asia Tenggara? Waktu yang akan menjawab.



