Yen Stabil Usai Intervensi Bersejarah, Dolar Tertekan Optimisme Iran
Baca dalam 60 detik
- Intervensi gabungan Jepang-AS pertama sejak 1998 berhasil menahan laju yen, namun analis meragukan efektivitas jangka panjangnya.
- Dolar melemah ke level terendah enam pekan karena turunnya harga minyak dan meredanya ketegangan geopolitik dengan Iran.
- Pasar kini menanti keputusan Bank of Japan pada September serta data tenaga kerja AS pekan ini untuk menentukan arah kebijakan moneter.

Yen Jepang berhasil menemukan titik stabil pada perdagangan Rabu (5/8) setelah mengalami volatilitas terburuk dalam beberapa bulan terakhir, menyusul serangkaian intervensi historis yang dilakukan otoritas moneter Tokyo dan Washington. Sementara itu, dolar Amerika Serikat terpantau bergerak di sekitar level terendah enam pekan terhadap sejumlah mata uang utama, seiring optimisme penyelesaian konflik Iran yang meredam permintaan aset safe haven.
Nilai tukar yen berada di kisaran 157,72 per dolar AS, setelah sempat melemah 0,4 persen pada Selasa. Pada Senin, yen sempat menyentuh 155,2 per dolar, padahal sepekan sebelumnya mata uang Negeri Sakura ini tercatat di level terlemahnya dalam 40 tahun, sekitar 164 per dolar. Pergerakan dramatis ini terjadi setelah Tokyo dan Washington melakukan pembelian yen secara bersama-sama pada Jumat laluโintervensi pertama otoritas AS dalam mendukung yen sejak 1998โyang kemudian mendorong dolar ke titik terendahnya dalam tiga bulan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Selasa memberikan dukungan verbal tambahan dengan menyatakan bahwa AS akan melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk membantu stabilisasi yen, menggemakan pernyataan mantan Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi pada 2012 yang berkomitmen serupa untuk menyelamatkan euro saat krisis utang kawasan. Namun, penguatan dolar terhadap yen setelah intervensi menunjukkan skeptisisme pelaku pasar terhadap efektivitas langkah tersebut dalam jangka panjang.
"Istilah 'plester luka' terasa cukup tepat dalam banyak kasus. Realitanya, ini hanyalah upaya penahanan, kecuali tiga kriteria terpenuhi," ujar Jeremy Stretch, kepala strategi G10 FX di CIBC Capital Markets. Ia merinci tiga kriteria tersebut: pendekatan yang lebih agresif dari Bank of Japan (BOJ) dalam menaikkan suku bunga, ekspektasi pasar yang lebih rendah terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve, serta harga minyak yang lebih rendah.
Bessent juga menyampaikan kepada NHK bahwa ia yakin Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan "melakukan yang terbaik" bagi perekonomian Jepang, meningkatkan spekulasi bahwa BOJ dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya yang dijadwalkan 17-18 September. Data BNY menunjukkan investor masih memegang posisi bullish terhadap yen, meski jauh lebih kecil dibandingkan paruh pertama tahun ini. "Dukungan AS membuka peluang akumulasi ulang, tetapi pasar akan sepakat dengan Bessent bahwa perubahan struktural bergantung pada kebijakan domestik yang kredibel," kata Geoff Yu, ahli strategi makro senior BNY.
Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, nyaris tidak berubah di angka 99,85 setelah menyentuh level terendah enam pekan pada Senin. Dengan harga minyak yang kembali ke sekitar 80 dolar AS per barel dan pernyataan Presiden Donald Trump bahwa pemerintahannya telah melakukan "pembicaraan yang sangat baik" dengan Iran, investor kehilangan insentif untuk membeli dolar sebagai aset aman. Penurunan harga minyak juga mendorong pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September semakin kecil, dari sekitar 70 persen di awal pekan menjadi di bawah 60 persen pada Rabu.
Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, pada Selasa menegaskan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengembalikan inflasi yang "terlalu tinggi" ke target 2 persen. Sementara itu, euro diperdagangkan stabil di 1,1536 dolar AS dan sterling di 1,346 dolar AS. Para pelaku pasar kini menanti laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat ini, yang dapat menjadi penentu arah kebijakan Fed dalam waktu dekat.
Bagi Indonesia, dinamika nilai tukar yen dan dolar ini memiliki implikasi signifikan. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga minyak dunia dapat membantu menekan biaya impor dan inflasi domestik. Namun, pelemahan dolar berpotensi membuat rupiah lebih stabil, meski ketidakpastian global masih membayangi. Pasar keuangan Indonesia perlu mencermati keputusan BOJ dan data tenaga kerja AS, karena keduanya dapat memicu pergerakan modal asing di pasar obligasi dan saham domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah intervensi ini hanya solusi sementara atau menjadi awal dari perubahan kebijakan yang lebih fundamental di Jepang. Jika BOJ benar-benar menaikkan suku bunga bulan depan, yen bisa menguat lebih lanjut, tetapi jika tidak, tekanan terhadap mata uang tersebut akan kembali muncul. Bagaimana pasar merespons data tenaga kerja AS pada Jumat akan menjadi ujian pertama bagi kredibilitas intervensi ini.



